Showing posts with label kesehatan. Show all posts
Showing posts with label kesehatan. Show all posts

Tuesday, March 29, 2016

Penyakit Jantung VS Serangan Asam Lambung


Heart Attack, Heart Burn, dan Pertolongan Pertamanya

Sekitar 10 hari yang lalu, saya (penulis) harus masuk Rumah Sakit di daerah Tangerang, karena terkena Demam Berdarah. Sebelumnya, saya mengunjungi sebuah institusi pemerintah untuk mengevaluasi dan memberi masukan terhadap kurikulum pengajaran bahasa asing yang dipergunakan di sana, dan sepertinya saya digigit nyamuk di sana. Selama dirawat di RS, saya melewatkan 2 hari pertama di kelas III, lalu selanjutnya dipindah di kelas II karena kamarnya [akhirnya] dapat tersedia. Ada beberapa hal menarik selama saya dirawat, yaitu ada beberapa pasien yang mengalami gejala / keluhan nyeri dada seperti penyakit jantung, tetapi tidak 'direspons' oleh staf perawat maupun okter di sana. Saya mengerti bahwa, apa yang mereka (pasien lain) keluhkan pada saat itu bukanlah penyakit jantung, walaupun para pasien tersebut yakin / beranggapan bahwa mereka sedang terserang penyakit jantung. Akan tetapi, sangat disayangkan juga bahwa staf medis yang berada di situ tidak memberikan informasi yang memadai dan bisa diterima. Tentunya, setiap pasien seharusnya berhak menerima penjelasan atas apa yang sedang terjadi pada dirinya (penyakit apa yang diderita dan seberapa parah) dan tindakan medis apa yang telah / akan dilakukan. Sayangnya, hal ini masih belum berjalan dengan benar. Ataukah ini nasib dari pasien kelas III, barangkali? Semoga pelayanan kesehatan di Indonesia bisa membaik ke depannya. Btw, saya beruntung karena selalu membayar BPJS secara rutin (walau hanya sesekali di Indonesia), sehingga semua (100%) pengeluaran saya selama berobat ditanggung oleh Pemerintah, sehingga saya tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun alias gratis.....  Sementara di Jepun, asuransi saya menanggung 70 ~ 90% dari total pengeluaran (tergantung Rumah Sakitnya).
 

Nah, sekarang kita masuk ke pertanyaan yang mengganggu benak tadi. Benarkah pasien yang dirawat bersama saya tidak mengalami penyakit jantung? Lalu, bagaimanakah membedakan antara 'serangan jantung' yang terjadi memang karena jantung dengan yang disebabkan karena asam lambung? Apakah ada perbedaan dalam pertolongan pertamanya? Lalu, apakah ada cara pencegahannya? Saya akan berusaha untuk mengulas semuanya di sini. Semoga berguna bagi para penderita GERD.


Keluhan / Sensasi
Pada penderita GERD, sensasi 'serangan jantung' ini dapat dimanifestasikan sebagai berikut :
- rasa seperti kesemutan di dada
- denyut jantung yang dirasa seolah-olah cepat
- kesulitan bernafas
- seluruh atau sebagian rongga dada akan terasa nyeri seperti terbakar
- biasanya terjadi sendawa
- mulut yang mungkin berasa pahit akibat asam lambung / empedu yang naik
- rasa sakit pada dada tidak berkurang, malahan akan semakin bertambah jika kita berbaring dengan posisi kaki lebih tinggi daripada kepala
- rasa sakit di dada dapat bertahan selama berjam-jam

Sedangkan pada penderita penyakit jantung, ada beberapa gejala yang dapat termanifestasi :
- dada terasa sesak dan berat
- timbulnya ilusi di mana ruangan sekitar menjadi berputar dan / atau menjadi mengecil
- rasa sakit di leher, lengan kiri dan rahang ; pada salah satu atau kedua bahu
- denyut jantung berasa cepat atau menjadi tidak teratur
- timbulnya keringat dalam jumlah yang berlebihan
- suhu tubuh yang menurun, terkadang diiringi dengan rasa menggigil
- rasa sakit menjadi berkurang jika berbaring dengan posisi kaki lebih tinggi daripada kepala
- rasa sakit di dada bertahan selama 5 ~ 15 menit lalu perlahan akan berkurang

Daftar di atas adalah perbedaan antara gejala penyakit jantung dengan GERD, yang dapat saya recall kembali. Saya ingat bahwa saya pernah menanyakan hal ini kepada teman saya, yang juga seorang dokter di bagian neurologi pada Nagoya Medical University.


kenali tanda dan gejalanya, baru lakukan langkah
pertolongan pertama yang tepat dan sesuai

Mengapa Penderita GERD Merasakan Nyeri Dada?
Nah, menurut teman saya ini, fungsi neurologi (fungsi saraf) pada daerah sekitar rongga dada tidak berfungsi sebaik bagian tubuh lainnya. Jika sebuah jari tangan kita dipukul dengan palu, kita akan dapat mengatakan jari manakah yang terpukul. Demikian pula halnya dengan jari kaki kita. Tetapi, tidak demikian halnya dengan rongga dada kita. Jika kita menderita sakit pada jantung, paru-paru, pankreas, atau kerongkongan, maka saraf kita akan mengirimkan pesan ke otak bahwa sumber rasa sakit itu [seolah-olah] berasal dari rongga dada. Sehingga, hal ini akan sulit untuk diinterpretasi dengan jelas bagi penderitanya, dan bahkan dalam proses diagnosa hal ini cukup menyulitkan. Seringkali, rasa nyeri di dada ini akan dianggap sebagai tanda penyakit jantung, padahal bukan.

Pada penderita GERD, 'kelebihan asam lambung' (suatu saat akan saya jelaskan mengenai apa itu 'kelebihan asam lambung') akan menciptakan tekanan pada perut (lambung), yang menyebabkan asam lambung naik melalui kerongkongan. Karena kerongkongan kita tidak didesain untuk menahan asam lambung, maka kerongkongan kita akan 'terkikis' dan mengirimkan 'pesan' ke otak. Telah disebutkan sebelumnya, bahwa oleh karena pesan yang dikirim ini 'tidak sempurna', maka otak menangkap bahwa rongga dada kitalah yang sedang mengalami masalah, sehingga timbullah ketakutan bahwa kita sedang mengalami penyakit jantung. Padahal, masalah sebenarnya berasal dari 'kelebihan asam lambung'. Dan karena gejala ini dimanifestasikan dalam bentuk dada yang serasa terbakar, maka gejala ini disebut juga sebagai heartburn. Begitulah penjelasannya dari pendekatan neurologis.


Bagaimana Cara Pertolongan Pertamanya?
Untuk kasus GERD (heartburn), pertolongan pertama yang dapat diberikan adalah dengan cara memberikan air dingin atau air sejuk dengan obat-obatan golongan antacid seperti M☆LANTA atau PR☆MAG. Obat-obatan antacid yang cair akan bekerja dengan lebih baik, lebih cepat, dan efektif untuk mengikat asam lambung daripada antacid berbentuk padat (tablet, puyer, dll.). Sedangkan air dingin / air sejuk bertujuan untuk menurunkan keaktifan dan laju produksi asam lambung.

Berlawanan dengan GERD, penderita dengan keluhan / gejala jantung harus diberikan pertolongan pertama dengan cara diberikan air hangat / suam-suam kuku, dan obat yang dapat membantu peredaran darah seperti ASPIRIN. Penderita jantung harus ditangani secara baik dan cepat, agar tidak berkembang menjadi stroke.


Angina Pectoris dan TIA
Angina pectoris adalah suatu keadaan di mana suplai darah ke jantung menjadi tidak memadai, dan jantung mulai mengirimkan sinyal ke otak bahwa suplai darah (Oksigen) ke jantung menjadi tidak mencukupi. Sinyal yang dikirimkan ini berupa rasa sakit yang tajam di rongga dada, dan dapat menjalar ke lengan, punggung, dan leher. Gejala ini mirip dengan gejala penyakit jantung, dan jika dibiarkan / diabaikan maka otot-otot sel jantung akan mati karena kekurangan Oksigen, dan pada akhirnya dapat menyebabkan penyakit jantung (myocardial infarction).

Sedangkan TIA (Transient Ischemic Attack) adalah suatu kondisi medis yang ditandai oleh kerusakan minor pada sel otak ataupun sel saraf yang terjadi karena berkurangnya pasokan Oksigen ke otak. TIA memiliki sifat reversible, yaitu dapat dipulihkan / disembuhkan dengan cara penanganan yang cepat terhadap berkurangnya suplai darah ke otak. Seringkali, penanganan terhadap pasien jantung yang terlambat ini menyebabkan TIA menjadi berkembang, sehingga kerusakan neurologis pada otak menjadi tidak bisa diperbaiki. Keadaan kerusakan otak yang [nyaris] tak bisa diperbaiki ini dinamakan stroke. Tetapi, ada kasus langka di mana dedikasi, ketabahan, dan ketekunan dalam merawat dapat menyembuhkan seorang penderita stroke. Untuk beritanya dapat dilihat di sini.
 

Lain-Lain
Bagi mereka yang bermasalah dengan kesehatan terutama lambungnya, atau hanya ingin tau lebih lanjut / berkonsultasi mengenai masalah asam lambung, bagi yang berdomisili di daerah BSD (Bumi Serpong Damai), dapat berkunjung ke klinik berikut:

Klinik dr. Popy Istianti (menerima BPJS)
Ruko Nusa Loka Blok QD No 7 (dekat Jl. Yapen)
Ciater, Tangerang Selatan

Dokternya masih muda, tetapi hebat dan berpengalaman. Teman main penulis sejak kecil.

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Semoga dapat memberikan wawasan dan informasi kepada sesama.


P.S.:
Jika anda ingin berkomentar, anda dipersilahkan untuk mengomentari artikel ini, dengan berpedoman pada etika dan kesopanan. Ingat, komentar anda menunjukkan karakter dan IQ anda. Jika ingin men-share artikel ini, silahkan melakukannya (saya akan senang sekali). Jika ingin mengutip sebagian dari artikel ini, anda juga dipersilahkan melakukannya. Tetapi, harap dituliskan sumbernya. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk menulis artikel ini, jadi hargailah hasil dan hak intelektual milik orang lain. Terima kasih telah mengunjungi blog ini.
 

Saturday, January 16, 2016

Menguak Mitos Seputar Air Alkali (Part II)

kategori: kesehatan

Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Pada artikel kali ini, saya akan memaparkan tentang mitos seputar air alkali dan kebenarannya. Artikel ini adalah artikel bagian kedua. Artikel bagian pertama dapat dibaca di sini.

MITOS ENAM. Air alkali dapat menyembuhkan kanker.
Ini adalah klaim / statement yang seringkali dibuat oleh produsen dan para pendukung air alkali. Mereka mengklaim, bahwa kanker menghasilkan senyawa asam dan dengan meminum air alkali, senyawa alkali akan menetralisir senyawa asam yang dihasilkan oleh sel kanker tersebut, sehingga pada akhirnya akan mematikan sel kanker. Klaim ini tidak pernah didukung oleh publikasi ilmiah di bidang yang berkepentingan. Walaupun ada beberapa kesaksian dari mereka yang mengatakan bahwa mereka telah sembuh setelah melakukan terapi alkali, tetapi kebenarannya tidak bisa dikonfirmasi, sama seperti iklan klinik T✮NG F✮NG beberapa tahun yang silam. Memang, senyawa kanker akan mengeluarkan beberapa senyawa yang sifatnya asam, dan di dalam laboratorium, mayoritas sel kanker akan mulai 'hancur' pada pH = 10. Tetapi, ada beberapa perbedaan yang nyata antara 'kondisi' eksperimen di laboratorium dengan 'kondisi' pada tubuh kita. Sebagai contoh, tubuh kita selalu berusaha mempertahankan pH pada rentang pH = 7.35 ~ 7.45, sehingga pH darah = 10 itu tidak akan pernah bisa dicapai, apalagi melalui jalur oral, di mana ginjal akan langsung bereaksi dengan cara membuang kelebihan basa melalui urin. Lagipula, tidak semua senyawa yang memiliki pH basa bisa diserap oleh tubuh. Sebagian bahkan tidak dapat diserap oleh usus dan akan dikeluarkan bersama dengan feses. Dan andaikan pH = 10 benar bisa dicapai oleh tubuh (darah) sekalipun, sang penderita pasti sudah meninggal karena alkalosis bahkan sebelum pH tubuhnya mencapai pH = 8.

Seperti saya sebutkan sebelumnya, bahwa jenis basa yang dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh terutama adalah ion bicarbonate (
HCO3 -). Ion ini juga telah terbukti secara ilmiah dapat menetralisir asam urat. Ion ini juga mampu menetralisir penumpukkan / akumulasi asam laktat (senyawa yang terbentuk saat melakukan aktivitas fisik), sehingga seringkali dijadikan 'ramuan rahasia' oleh para atlit untuk 'menunda' rasa lelah. Penggunaan ion bicarbonate untuk melawan kanker pada manusia sejauh ini belum pernah diteliti, atau setidaknya belum pernah ada publikasi ilmiahnya. Akan tetapi, ada seorang dokter spesialis onkologi (spesialis kanker) asal Italia, Dr. Tullio Simoncini yang mempraktekkan pengobatan kanker kontroversial dengan menggunakan bicarbonate. Akan tetapi, Dr. Tullio Simoncini sendiri tidak menjelaskan mengapa hal ini dimungkinkan (mekanisme), tidak memberikan data berapa banyak pasien yang disembuhkan, dan tidak mempresentasikan temuannya ini di jurnal / forum ilmiah, sehingga klaimnya cukup meragukan. Walaupun begitu, ada kesaksian yang menyatakan bahwa seorang pasien kanker dapat mengalami kesembuhan setelah melakukan terapi kontroversial ini (link di sini), walaupun ada juga pasien yang meninggal karena terapi kontroversial ini (link di sini). Perlu diperhatikan bahwa senyawa anion (anion: ion negatif) bicarbonate yang masuk ke dalam tubuh / darah akan [diusahakan untuk] dikeluarkan melalui paru - paru (dalam bentuk gas CO2) dan ginjal (urine), sebagai mekanisme tubuh untuk mempertahankan pH darah. Juga, kation (ion positif, biasanya ion Natrium atau Na +) yang berpasangan dengan ion bicarbonate juga dapat menimbulkan masalah pada tubuh, karena biasanya merupakan logam mineral yang berada dalam keadaan ionnya. Kelebihan Natrium akan mengganggu kestabilan komposisi kimia darah, dan dapat mengganggu irama jantung juga mempengaruhi kerja otak, yang akan berakibat buruk bagi tubuh. Walaupun ada yang mengaku sembuh dari terapi ini, tetapi mengingat resiko dan tidak adanya artikel ilmiah yang mendukung, maka informasi ini saya bagikan hanya untuk pengetahuan saja, bukan sebagai saran pengobatan untuk dilakukan oleh penderita kanker.

Dr. Simoncini, sang ahli kanker kontroversial (sumber: Internet)

Walaupun ion bicarbonate (suatu senyawa alkali) diklaim mampu menyembuhkan kanker, air alkali yang didapat melalui proses elektrolisis walaupun faktanya memiliki nilai pH > 7, tetapi senyawa - senyawa apa saja yang terkandung di dalamnya tidak dapat diketahui secara pasti. Karena, baik air alkali yang diproduksi di pabrik maupun di rumah (melalui instalasi penghasil air alkali), komposisi air alkali yang dihasilkan tentunya akan bergantung dari komposisi kimia dari air baku. Selain tidak ada jaminan bahwa air alkali tersebut mengandung bicarbonate, sangatlah mungkin air baku juga mengandung kontaminan senyawa organik, seperti sisa pestisida, limbah rumah tangga (sabun cuci, dll.), senyawa organik (misal: senyawa turunan benzene), dll. yang lolos dari penyaringan pada carbon filter. Jika senyawa ini terelektrolisis oleh ionizer, bukannya tidak mungkin bahwa senyawa yang terdapat dalam air baku ini akan terurai menjadi radikal bebas ataupun senyawa karsinogen, suatu senyawa yang justru berpotensi memicu kanker. Sedangkan air alkali yang diproduksi di pabrik mungkin memiliki proses pengolahan air baku yang cukup kompleks dan terjamin sebelum proses elektrolisis. Akan tetapi, air alkali yang dikemas dalam botol plastik juga akan sangat beresiko, karena dapat bereaksi dengan molekul polimer plastik dan 'meluruhkan' BPA yang terdapat dalam plastik kemasan. BPA (Bisphenol A) adalah senyawa toksin yang jika masuk ke dalam tubuh dapat memicu berbagai penyakit seperti insomnia, kemandulan, jantung, bahkan kanker, dll. Alih - alih ingin supaya sehat dan menurunkan resiko kanker, tetapi hasil yang didapat bisa jadi malah sebaliknya.

MITOS TUJUH. Air alkali dapat meningkatkan imunitas tubuh.
Para pendukung dan produsen air alkali mengklaim bahwa air alkali dapat berfungsi sebagai immunomodulator (memodifikasi / meningkatkan fungsi kekebalan tubuh) sehingga dapat melawan kuman penyakit dengan lebih baik. Klaim ini terdengar masuk akal, tetapi bagaimana mekanisme air alkali sehingga dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh tidak pernah dijelaskan. Tetapi, sebelum saya menjelaskan bagian sulitnya, saya akan menjelaskan secara mudah melalui perumpamaan. Jikalau ada yang berkata bahwa 「jika anda ingin agar kulit tubuh anda diregenerasi dengan sel kulit yang baru, maka tempelkanlah setrika panas ke kulit anda」, apakah pernyataan ini salah? Tentunya pernyataan ini tidak salah. Tetapi, apakah anda mau mengikuti saran gila ini? Kalau saya sih, tidak akan mau. Sekarang, kembali ke topik. Jadi, jika air dengan pH basa memasuki saluran pencernaan, hal ini akan mempengaruhi komposisi mikroflora usus, yang akan menggeser kesetimbangan / komposisi antara probiotik VS patogen. Seperti telah dijelaskan di artikel sebelumnya, bahwa kebanyakan probiotik mengeluarkan senyawa asam sebagai 'senjata' untuk melawan kuman patogen, dan kebanyakan kuman patogen lebih menyukai pH basa. Sehingga, jika pH dalam usus berubah karena pengaruh air alkali, bisa dipastikan bahwa kuman patogen akan berkembang biak lebih cepat daripada probiotik di dalam usus. Jika 'mikroba baik' sudah tidak dapat mengendalikan 'mikroba jahat', maka 'mikroba jahat' dapat berkembangbiak secara tak terkendali, dan dapat menimbulkan gangguan bahkan masalah kesehatan. Baik 'mikroba baik' maupun 'mikroba jahat' sebagian besar mendapatkan makanan melalui proses yang bernama fermentasi. Akan tetapi, fermentasi oleh 'mikroba jahat' dapat menghasilkan gas NH3 (ammonia) yang sangat beracun bagi tubuh. Gas ammonia ini mudah sekali berdifusi melalui dinding usus dan masuk ke dalam peredaran darah. Dan, karena senyawa ini beracun, tubuh kita berusaha untuk mengurangi tingkat toksisitasnya (keberbahayaannya), sehingga ammonia akan didetoksifikasi oleh hati / liver melalui proses yang bernama 'ornithine cycle' menjadi senyawa urea yang kurang berbahaya. Urea ini lalu keluar dari liver dan masuk ke peredaran darah menuju ginjal, untuk kemudian diekskresikan melalui air seni. Jika liver sudah tidak mampu mendetoksifikasi ammonia, maka sebagian ammonia yang tidak terkonversi akan dikeluarkan melalui pernafasan dan air seni. Celakanya, jika hal ini sampai terjadi, pH urin akan naik (menjadi basa), sehingga membuat senang para pendukung maupun produsen air alkali, karena menjadikan klaim mereka seolah - olah benar, bahwa air alkali akan membuat pH air seni menjadi basa. Padahal, mereka tidak tahu, bahwa ada suatu masalah yang tidak terlihat tetapi sangat mengerikan yang dapat / sedang terjadi, di mana ammonia yang sangat berbahaya dapat terakumulasi di dalam darah, dan jika ini terjadi maka
sel - sel tubuh yang sehat dapat 'terlumpuhkan'. Jika pH urin anda memiliki nilai basa untuk periode waktu yang lama, dan anda curiga, segera lakukanlah tes urin untuk mengetahui kadar BUN (blood urea nitrogen).

Telah dijelaskan bahwa air alkali yang dikonsumsi dalam waktu lama juga dapat membuat 'mikroba jahat' (opportunistic pathogen) berkembang tidak terkendali. Dari sekian banyak mikroba opportunistic pathogen, salah satu yang paling ditakuti adalah yeast Candida albicans. Di dalam saluran pencernaan, hampir semua 'penghuni' usus adalah makhluk bersel satu, seperti bakteri, yeast, virus, terkadang protozoa (misal: amoeba, sporozoa, dll.) dan cyanobacteria. Protozoa dan cyanobacteria di dalam usus tidak memberikan keuntungan apapun, melainkan berpotensi mengakibatkan gangguan kesehatan. Sedangkan yeast Candida albicans adalah salah satu 'penghuni' alami usus, tetapi mikroba ini bukan dari golongan bakteri, melainkan dari golongan yeast (jamur bersel tunggal). Pada jumlah yang sedikit, Candida albicans merupakan miroba saprofit komensal usus, yang berfungsi 'memakan' (menguraikan) sel - sel yang sudah mati, baik sel tubuh maupun sel mikroba lainnya. Pada pH = 6.9 atau lebih, Candida albicans dapat bertransformasi dari bentuk uniseluler (yeast bersel tunggal) menjadi bentuk hyphae yang multiseluler. Candida albicans yang berada dalam bentuk hyphae akan memiliki struktur seperti akar, yang dapat melubangi dinding usus. Jika usus sampai berlubang, maka sifat usus yang semula selective permeable (hanya mengizinkan molekul - molekul tertentu saja untuk diserap masuk ke peredaran darah) akan kehilangan karakteristiknya. Akibatnya, berbagai macam senyawa, mulai dari senyawa toksin, protein / karbohidrat yang tidak berhasil 'dipecahkan' secara sempurna dari proses pencernaan, bahkan bakteri bisa masuk ke dalam peredaran darah. Jika hal ini terjadi, maka akan memperberat kerja beberapa organ yang bertugas mendetoksifikasi dan membuang senyawa racun, seperti hati / liver dan ginjal. Juga, 'senyawa asing' serta bakteri yang seharusnya tidak ada di dalam darah akan memicu reaksi imunitas. Sistem imunitas kita akan berjuang dan berperang tiada henti melawan bakteri, molekul asing, dan partikel lainnya yang menyusup masuk dari 'lubang - lubang kecil' yang ada pada usus tadi. Sistem kekebalan tubuh kita lama - lama dapat juga menjadi stress, dan akhirnya mulai menyerang organ ataupun sel tubuh kita sendiri. Akibatnya, reaksi inflamasi dapat terjadi di mana - mana. Dalam kondisi yang parah, hal ini dapat [berpotensi] berujung pada kondisi yang disebut autoimmunity disorder ataupun systemic lupus, yaitu suatu kondisi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang organ tubuh sendiri atau menyerang sel lainnya. Jika dilihat, maka klaim para pendukung dan produsen air alkali yang menyatakan bahwa air alkali dapat meningkatkan / mengaktifkan sistem imunitas tubuh memang tidak bohong, tetapi jika berujung kepada gangguan sistem imunitas maka sepertinya hal ini tidaklah menyenangkan. Sama seperti perumpamaan mengenai setrika tadi. Memang dapat membantu regenerasi kulit, tetapi setelah mengetahui apa yang [akan] terjadi jika kita mengikuti anjuran tersebut, saya yakin tidak akan ada yang mau melakukannya.


yeast Candida albicans dapat berubah dari struktur uniseluler
menjadi struktur hyphae yang multiseluler dan sangat berbahaya
(sumber: Internet)
MITOS DELAPAN. Air alkali dapat membunuh bakteri H. pylori sehingga membantu memelihara kesehatan pencernaan.
Memang tidak ada klaim secara eksplisit mengenai air alkali yang dapat membunuh Helicobacter pylori, tetapi saya pernah membaca bahwa air alkali yang diklaim mampu 'mengusir' bakteri Helicobacter pylori. Bagaimana air alkali dapat 'mengusir' bakteri Helicobacter pylori tidak dijelaskan secara rinci. Tetapi, perlu saya tegaskan bahwa faktanya Helicobacter pylori tidak dapat 'diusir' hanya dengan air alkali. Bakteri Helicobacter pylori adalah bakteri yang menyukai suasana netral (pH = 6 ~ 7.8), tetapi dapat selamat dalam suasana asam (termasuk asam lambung) melalui beberapa mekanisme, yang tidak bisa saya jelaskan di sini. Mungkin kelak saya akan menulis artikel khusus mengenai bakteri ini. Jika kita meminum air alkali dengan pH > 7, berarti kita memberikan suasana yang nyaman untuk bakteri Helicobacter pylori, padahal bakteri ini dapat menyebabkan berbagai macam masalah maupun gangguan kesehatan bila berada pada lingkungan yang sesuai / mendukung.


ilustrasi bakteri H. pylori
MITOS SEMBILAN. Mencegah / menunda terjadinya osteoporosis.
Melalui teori yang disebut 'acid forming foods', para pendukung air alkali mengklaim bahwa memakan makanan golongan 'acid forming foods' yang mengandung protein / lemak tinggi (bahkan karbohidrat dan gula) dapat menghasilkan asam sebagai sisa metabolisme. Teori aneh ini juga mengatakan bahwa, untuk menetralisir sisa asam ini, maka tubuh akan 'menarik' kalsium dari dalam tulang sehingga tubuh akan lebih mudah mengalami osteoporosis. Sehingga, supaya mineral kalsium tidak 'diambil' dari tulang, kita harus mengkonsumsi air alkali yang akan menetralisir 'sisa asam' yang dihasilkan dari acid forming foods tadi. Sungguh, teori aneh yang menghasilkan kesimpulan aneh. Memang, teori aneh ini terlihat sungguh 'sederhana' sehingga 'mudah dimengerti'. Faktanya, telah disebutkan bahwa makanan yang mengandung protein / lemak yang digolongkan ke dalam acid forming foods tadi membutuhkan asam lambung untuk proses pencernaannya (sebagaimana disebutkan pada poin satu), sehingga mengkonsumsi air alkali akan mengacaukan proses pencernaan tersebut. Lagipula, tubuh kita melakukan proses biokimia yang sangat kompleks untuk mempertahankan keadaan idealnya (kondisi homeostatis). Makanan yang termasuk dalam 'acid forming foods' memang ada, dan dalam proses pencernaannya akan menghasilkan produk akhir yang biasanya asam (tetapi kadangkala bisa juga basa). Zat asam hasil pencernaan (misal: asam amino, asam lemak, dll.) ini akan diserap dan masuk ke peredaran darah, tetapi dengan cepat akan bereaksi dengan ion bikarbonat (
HCO3 -) di dalam darah yang bertindak sebagai buffer (penyangga) pH, lalu diangkut ke paru - paru untuk 'diuraikan' menjadi air (H2O) dan CO2. CO2 ini akan diekskresikan melalui paru - paru / pernafasan. Sedangkan sisa metabolisme lainnya yang berupa garam akan diekskresikan melalui ginjal, dan dalam proses tersebut akan dihasilkan ion bikarbonat yang baru untuk menggantikan ion yang lama. Dan hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalsium dalam tulang. Lagipula, gula, apapun jenisnya (glukosa, laktosa, sukrosa) pada akhirnya akan 'dipecah' menjadi gula sederhana atau monosakarida, seperti glukosa, fruktosa, dkk. Dan senyawa ini (monosakarida) adalah senyawa netral, bukan asam sebagaimana dituduhkan oleh kaum pendukung air alkali.

Lalu, makanan seperti keju (yang tergolong dalam acid forming foods) justru kadangkala dituduh sebagai penyebab osteoporosis oleh pendukung air alkali yang fanatik. Mereka mengklaim bahwa kalsium yang diekskresikan melalui air seni adalah 'buktinya', bahwa acid forming foods ini menarik kalsium dalam tulang untuk menetralisir asam dari keju tersebut. Mereka juga memiliki 'bukti lain' bahwa bahkan mereka yang rajin mengkonsumsi keju dan susu pun (seperti di negara Amerika) rentan terkena osteoporosis. Sebenarnya, ada dua penjelasan ilmiah yang dapat saya berikan untuk meng-counter (menepis / membantah) kedua tudingan ini. Pertama, proses penyerapan kalsium oleh tulang adalah proses yang rumit. Memang, kalsium ini akan diserap oleh darah dan dibawa oleh darah, tetapi penyerapan kalsium oleh tulang bergantung juga pada banyak faktor lainnya, seperti ketersediaan vitamin K2, vitamin D, vitamin C, mineral Magnesium, mikromineral Cu (tembaga) dan Zn (seng) sebagai biokatalisator, dan asam amino seperti lysine, hydroxylysine, proline, hydroxyproline dan glycine. Jadi, intinya, jika anda makan keju atau minum susu atau bahkan suplemen kalsium pun, tidak ada jaminan bahwa tulang anda [akan] dapat menyerap kalsium tersebut. Kalsium yang diserap masuk ke darah tetapi gagal diserap oleh tulang akan dikeluarkan kembali melalui urin / air seni. Jadi, kalsium yang terdapat dalam urin BUKAN berasal dari tulang sebagaimana dituduhkan oleh pendukung fanatik air alkali ; melainkan berasal dari kalsium yang gagal diserap oleh tulang tetapi dibuang kembali karena tidak bisa dimanfaatkan. Lalu, bagaimana dengan orang - orang di Amerika yang gemar memakan makanan tinggi kalsium tetapi tetap menderita osteoporosis? Berdasarkan 'fakta' ini, maka pendukung air alkali 'menciptakan' teori aneh ini (bahwa tulang dapat melepaskan kalsium untuk menetralisir asam dari acid forming foods). Mungkin, para pendukung air alkali ini melupakan (atau tidak mengetahui) penjelasan saya barusan. Juga, fakta bahwa orang Jepang juga gemar mengkonsumsi susu, tetapi mengapa mereka tidak mengalami osteoporosis? Mengapa orang Amerika yang rawan mengalami osteoporosis? Jawabannya terletak pada kebiasaan makan mereka. Orang Amerika seringkali mengkonsumsi susu dengan cereal, dan mereka juga suka mengkonsumsi keju dengan roti. Hal ini memang enak, dan sepintas memang terlihat kaya akan nutrisi, tetapi mereka melupakan yang namanya INTERAKSI makanan. Interaksi tidak hanya terjadi pada obat - obatan kimia saja, tetapi bisa terjadi pada banyak hal: bahan makanan, bumbu, rempah - rempah, minuman, suplemen, dll. Molekul karbohidrat kompleks (fiber) yang terdapat pada gandum (dalam kasus ini adalah roti dan cornflakes) dapat membentuk ikatan kimia dengan kalsium, menghasilkan suatu senyawa organik kompleks yang tidak dapat diserap oleh tubuh (usus), sehingga kalsium yang terdapat dalam makanan / minuman akan terbuang melalui feses. Demikian pula dengan oatmeal yang terbuat dari gandum, walaupun efektif mengikat kolesterol tetapi juga menghalangi penyerapan kalsium. Untuk list lengkapnya dapat dilihat di sini. Jika usus tidak dapat menyerap kalsium, bagaimana mungkin tulang bisa memanfaatkannya (menyerap)? Sedangkan jikalau usus mampu menyerap kalsium pun, belum tentu tulang mampu menyerapnya (berdasarkan teori yang saya paparkan sebelumnya). Hal inilah yang menjelaskan mengapa, orang di Amerika lebih rentan mengalami osteoporosis sementara orang Jepang tidak ; padahal orang di kedua negara tersebut sama - sama menyukai susu. Jadi, makanan yang kaya akan nutrisi pun tidak akan berguna jika tidak dapat diserap lalu dimanfaatkan oleh tubuh. Begitu intinya.

Berdasarkan pembahasan di atas, telah dijelaskan bahwa sebagian besar makanan yang banyak mengandung protein justru malah akan membantu proses penyerapan kalsium oleh tulang. Hal ini terjadi karena pada proses pencernaan, protein akan 'dipotong - potong' menjadi asam amino oleh enzim. Selanjutnya, beberapa jenis asam amino [dan vitamin] akan berperan penting dalam mendukung proses penyerapan kalsium oleh tulang. Memang ada beberapa pengecualian, seperti kacang kedelai dan [hampir] seluruh produk turunannya, seperti tahu dan susu kedelai, yang mengandung senyawa asam oksalat, yang dapat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium oksalat (CaC2O4) yang tak larut sehingga tak dapat diserap oleh usus. Walaupun kedelai kaya akan nutrisi seperti protein dan lainnya, ada kemungkinan bahwa kedelai dapat mengganggu penyerapan kalsium (kecuali pada témpé dan yoghurt susu kedelai yang kandungan oksalatnya rendah). Tetapi, mengingat nutrisi lainnya yang juga tak kalah baiknya, tentunya jangan jadikan ini sebagai halangan untuk mengkonsumsi kedelai.


Keton Katon Bagaskara, penyanyi favorit saya sejak jaman SMP, mengalami
patah tulang setelah terjatuh di tahun 2013. Gejala osteoporosiskah?
(sumber: cumicumi.com)
MITOS SEPULUH. Memperlambat proses penuaan. Secara logika, proses penuaan dapat diperlambat selama sel tubuh yang rusak dapat diregenerasi (digantikan) oleh sel - sel baru. Agar tubuh dapat terus membentuk sel - sel baru, maka metabolisme sel tubuh dan penyerapan nutrisi harus baik. Agar metabolisme tubuh dapat berjalan dengan baik, ada beberapa kuncinya: istirahat yang cukup, berolahraga yang teratur, pengendalian stress, terhindar dari polusi, makan dengan benar (makan pada waktu yang tepat, dengan cara makan yang benar, porsi cukup, gizi seimbang, dan kombinasi makanan yang benar), serta pencernaan yang sehat. Jadi, bahkan jikalau air alkali memang benar berkhasiat, air alkali sendiri tidak akan cukup untuk membuat kita awet muda. Selain itu, mengingat potensi bahaya yang dimiliki oleh air alkali yang sudah dijelaskan panjang lebar tadi, sulit dipercaya bahwa air alkali dapat memperlambat proses penuaan. 

jika ingin tahu mengenai resep awet muda, tanyakanlah pada ahlinya
(sumber: cumicumi.com)
SEBELAS. Mengobati diabetes.
Di Jepang, air alkali digunakan secara luas di banyak rumah sakit sebagai suatu terapi standar terhadap pasien diabetes, dan hasilnya tampaknya memuaskan. Selain itu, penelitian mengenai terapi air alkali untuk menyembuhkan penyakit diabetes juga cukup banyak dilakukan di Jepang, dan publikasi maupun seminar ilmiahnya juga cukup banyak. Sementara publikasi dalam bahasa Inggris mengenai efek positif air alkali terhadap kesehatan manusia jumlahnya masih sangat sedikit. Adapula blog berisi kesaksian mengenai kesembuhan setelah mengkonsumsi air alkali, yang dapat dibaca di sini (dalam bahasa Jepun). Oleh karena terdapat beberapa publikasi ilmiah seputar khasiat air alkali untuk diabetes, maka klaim pendukung air alkali mengenai khasiatnya yang dapat menyembuhkan diabetes MUNGKIN dapat diterima. Hanya saja, walaupun klaim ini benar, tetapi pertanyaan selanjutnya adalah, air alkali yang bagaimana yang dapat menyembuhkan penyakit diabetes? Apakah hanya air dengan pH > 7? Tentunya tidak sesederhana itu. Mungkin topik ini akan saya 'angkat' untuk artikel saya selanjutnya. Mungkin loh yah....


walaupun air sabun memang memiliki pH > 7, tetapi
jangan pernah sekali - sekali meminumnya....!!
(kalo sampe nekat, resiko tanggung sendiri...!!)
PENUTUP
Mengingat bahwa ternyata air alkali ternyata memiliki beberapa manfaat (walaupun manfaatnya tidak sebanyak klaimnya), ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika anda memang ingin mengkonsumsi air alkali, yaitu :
  1. Jangan mengkonsumsi air alkali dengan pH > 9.5.
  2. Jangan mengkonsumsi air alkali melebihi 1 L setiap harinya.
  3. Air alkali harus dikonsumsi minimal 45 menit sebelum makan dan 2 jam sesudah makan, termasuk buah.
  4. Jangan memakan / meminum obat dengan air alkali.
  5. Jangan menggunakan air alkali untuk membuat jus, kopi, ataupun untuk memasak.
  6. Untuk mereka yang mengalami gangguan ginjal, harap dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu.
  7. Tidak semua air alkali berguna bagi kesehatan. Air alkali yang [mungkin] berguna bagi kesehatan adalah air alkali yang termasuk dalam golongan ERW (Electrolyzed Reduced Water) atau AIW (Alkaline Ionized Water)
  8. Air alkali yang baik adalah air alkali yang memiliki nilai ORP (Oxidation - Reduction Potential) yang negatif, yang berkisar antara -150 sampai -400mV.
  9. Air alkali yang baik adalah air alkali yang mengandung Hidrogen (H2) terlarut.
  10. Konsumsilah air alkali dengan segera (maksimum 1 jam) setelah membuka kemasannya.
Terima kasih telah berkenan 'mampir' dan membaca tulisan di blog saya ini. Tulisan ini bagaimanapun merupakan pendapat saya pribadi, jadi tentu saja ada unsur subjektivitasnya, walaupun saya selalu berusaha untuk mengutamakan obyektivitas. Jika anda tidak setuju atau ingin bertanya, silahkan merespons di bagian 'komentar'. Ingatlah, komentar anda mencerminkan karakter anda.


P.S.:
Jika ingin mengutip sebagian artikel ini, anda dipersilahkan melakukannya. Tetapi, harap dituliskan sumbernya. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk menulis artikel ini, jadi hargailah hasil dan hak intelektual milik orang lain. Terima kasih telah mengunjungi blog ini.


Referensi:
http://www.dietdoctor.com/lose-weight-by-achieving-optimal-ketosis
http://www.webmd.com/diabetes/type-1-diabetes-guide/what-is-ketosis?page=2
http://www.jbc.org/content/87/3/651.full.pdf
http://inhumanexperiment.blogspot.co.id/2009/09/two-brave-men-who-ate-nothing-but-meat.html
http://www.cystinuria.com/articles/urinary-alkalization/
http://www.metaboliceffect.com/blood-urea-nitrogen-what-it-is-why-is-yours-high-or-low/
http://www.diagnosisdiet.com/food/protein/
http://www.healthline.com/health/urine-ph#Procedure3
http://www.curezone.org/forums/am.asp?i=1259515
http://www.healthline.com/health/alkalosis#Symptoms3
http://chriskresser.com/the-ph-myth-part-1/
https://sciencebasedpharmacy.wordpress.com/.../your.../
http://www.livestrong.com/article/544580-what-happens-to-lactic-acid-after-exercise/
http://paleoleap.com/acid-alkaline-balance-paleo/
http://jonnybowden.com/alkaline-myths/
http://www.metaboliceffect.com/blood-urea-nitrogen-what-it-is-why-is-yours-high-or-low/
http://www.ketogenic-diet-resource.com/ketosis.html
http://www.oralcancerfoundation.org/complications/candida-infection.php
http://www.kangenwater.hk/more...htm
http://www.healthalkaline.com/scientist-explains-benefits-of-hydrogen-rich-alkaline-water/
http://www.drlwilson.com/articles/ALKA.%20WATER.htm 

Friday, January 15, 2016

Menguak Mitos Seputar Air Alkali (Part I)

kategori: kesehatan

Belakangan ini, 'alkaline water' (air alkali) atau di Jepang lebih dikenal dengan merk dagang 'kangén water' (baca: air kangーgén) namanya mulai sering terdengar, yang diklaim sebagai 'air ajaib'. Yang dimaksud dengan air alkali adalah air yang memiliki pH > 7 (jika pH > 7 maka suatu zat dikatakan bersifat basa / alkali). Air yang dapat diproduksi di pabrik maupun di rumah (dengan membeli peralatan yang bernama ionizer) ini memiliki pH > 7, dan dikatakan bisa menyembuhkan berbagai penyakit, dari flu sampai kanker. Di kantor, setidaknya 1 orang teman di divisi saya mengkonsumsi / meminum air ini secara rutin. Di alam, air alkali dapat dijumpai pada air terjun, mata air, dan air zamzam. Tetapi, benar gag 'sih, bahwa air alkali (yang dibuat melalui mesin) dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit? Apakah air alkali memang benar bermanfaat, ataukah ini hanya akal - akalan pihak produsen saja? Mari kita lihat mitos - mitos seputar air kangén (還元水 ; kang-gén-sui) dan juga teman - temannya, dan saya akan mencoba menganalisis untuk mengungkap fakta mengenai klaim seputar air alkali ini... Semoga artikel ini dapat memberikan pencerahan bagi kita semua.

contoh air alkali yang dijual di Jepun
(sumber: dok. pribadi)
MITOS SATU. Air alkali baik untuk penderita asam lambung.
Untuk penderita refluks asam lambung, meminum air alkali dapat membantu menetralisir asam lambung, dan hal ini terdengar logis dan  masuk akal. Memang klaim ini tidak salah, justru klaim pernyataan ini sangat benar. Tetapi jika ditelaah dalam konteks ilmu Kimia, terdapat kejanggalan. Dalam konteks Kimia sederhana, air alkali dengan pH = 8 dapat diasumsikan mengandung ion yang equivalen (setara) dengan 0.000 001 mol OH− / L. Sedangkan lambung yang memiliki pH = 3 dapat dianggap mengandung ion yang setara dengan 0.001 mol
H+ / L. Artinya, bahkan jika kita meminum 2 L air alkali yang memiliki pH = 8, secara matematika sederhana (sebenarnya ada hitungan rumitnya, yang mungkin akan memberikan hasil yang berbeda), dapat dihitung bahwa lambung pada pH = 3 hanya perlu mensekresikan asam lambung sebanyak 2 mL untuk menetralkan 2 L air alkali pada pH = 8, dan hal ini dapat berlangsung dalam sekejap. Bahkan, pada pH = 2, air alkali sebanyak 2 L pada pH = 8 dapat akan langsung dinetralisir oleh 0.2 mL (hanya 1 ~ 2 tetes saja...!!) asam lambung. Lagipula, air alkali hanya dapat menetralkan asam lambung yang sudah diproduksi oleh lambung, bukan mencegah / membatasi produksi asam lambung, sebagaimana obat golongan PPI. Bahkan jika air alkali yang diminum memiliki pH = 10 sekalipun (yang mana akan membawa dampak buruk ke katup LES), efek penetralan asam lambung ini hanya akan berlangsung selama beberapa jam (paling lama 3 jam) seperti halnya antasida (obat maag), karena asam lambung akan segera diproduksi lagi setelahnya. Lantas, apa yang akan dilakukan jika asam lambung kembali diproduksi? Mengkonsumsi kembali air alkali? Jika begini polanya, penderita asam lambung akan menjadi bergantung kepada air alkali untuk 'menyelesaikan masalahnya' setiap kali masalah itu (keluhan asam lambung) muncul. Lalu, siapakah yang mendapat keuntungan paling banyak dari penjualan air alkali ini? Pertanyaan ini tidak perlu saya jawab.
 
Padahal, penderita asam lambung harusnya fokus untuk mencari faktor pencetus (penyebab), yang mengakibatkan asam lambungnya diproduksi secara berlebihan. Tindakan meminum air alkali untuk menetralkan asam lambung mungkin tidak salah, tetapi tidak bijaksana, karena tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Tindakan ini hanya akan menghilangkan keluhannya saja untuk sementara waktu, dan di lain pihak hal ini juga dapat menyebabkan ketergantungan. Di satu sisi, keluhan asam lambung bisa jadi justru disebabkan karena kurangnya produksi asam lambung. Atau karena penyebab lainnya. Bahkan, penderita kelebihan asam lambung pun dapat memperoleh kelegaan dengan mengkonsumsi lemon / jeruk nipis peras atau ACV (apple cider vinegar alias cuka apel), dan tidak harus dengan air alkali. Mengenai hal ini, semoga bisa saya bahas di lain waktu. Jadi, mereka yang menderita keluhan 'asam lambung' belum tentu disebabkan karena asam lambung yang diproduksi secara berlebihan. Di dalam lambung sendiri, terdapat gastric mucosal barrier (lapisan pelindung) yang berfungsi untuk melindungi lambung agar tidak terluka oleh asam lambung yang dihasilkannya sendiri. Gastric mucosal barrier dapat menjaga agar lambung tidak rusak, bahkan mampu melindungi lambung sampai pada pH = 1, pH di mana bahkan beberapa jenis logam pun dapat meleleh. Hanya saja, walaupun gastric mucosal barrier mampu melindungi lambung dari asam, tetapi tidak mampu melindungi lambung dari basa. Air alkali dengan sifat basa yang kuat (pH = 9 atau lebih) berpotensi merusak lapisan gastric mucosal barrier (artikel dapat dibaca di sini). 


tidak ada jaminan bahwa air alkali
dapat mengobati asam lambung
(sumber: Internet)

MITOS DUA. Air alkali dapat membantu tubuh melawan kuman.
Saya banyak membaca di blog maupun website bahwa air alkali dapat membantu tubuh untuk melawan kuman. Saya juga membaca penjelasannya, tetapi banyak hal yang saya tidak mengerti, karena penjelasannya terasa ganjil. Tetapi, yang saya tahu, sejak SD guru IPA saya selalu mengajarkan bahwa lambung berfungsi menghasilkan asam lambung yang salah satu fungsinya adalah untuk membunuh kuman penyakit. Memang, pH kerja lambung berkisar antara pH = 1 ~ 3, dan banyak bakteri (kuman penyakit) akan mati pada saat pH < 3.5. Jika air alkali yang cukup kuat (pH = 9 atau lebih) dapat menetralkan asam lambung (seperti dituliskan di atas), berarti lambung akan menjadi relatif basa (pH > 5). Lalu bagaimana lambung -- yang berfungsi sebagai pertahanan lapis pertama -- dapat menjalankan fungsinya untuk membunuh kuman penyakit, jika pHnya tidak cukup asam, karena sebagian atau seluruhnya telah dinetralkan oleh air alkali? Ambil contoh, bakteri Helicobacter pylori, yang akan mati pada suasana asam dan akan aktif sebagai mikroba patogen pada suasana relatif basa. Memberikan air alkali pada mereka yang terinfeksi Helicobacter pylori cukup beresiko, karena bakteri tersebut bisa saja menjadi aktif dan berkembang biak dengan cepat.

Lalu, ada juga resiko berkembangnya yeast Candida albicans jika pH lambung tidak cukup asam. Yeast Candida albicans dapat berkembang dan menyebabkan penyakit keputihan pada kaum wanita apabila pH organ intimnya naik. Dan faktanya, yeast Candida albicans dapat menyebabkan ratusan masalah kesehatan yang tidak hanya 'mengancam' kaum hawa saja. Yeast Candida albicans jauh lebih menakutkan daripada bakteri Helicobacter pylori, karena benar - benar dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan bahkan penyakit, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, mulai dari kebotakan, jamur pada kuku kaki, gangguan konsentrasi, berkurangnya kepekaan lidah dalam mengecap rasa makanan, sinusitis, gangguan pencernaan, perut kembung, malnutrisi (kurang gizi), gangguan emosional, nafsu makan yang tidak terkendali, anemia, diare yang [hampir] tidak bisa diobati, bahkan [saya pribadi juga percaya bahwa] yeast Candida albicans juga dapat menyebabkan penyakit lupus dan autoimmunity disorder lainnya. Di dalam saluran pencernaan, probiotik yang berada di dalam usus kita berusaha untuk mengendalikan populasi yeast Candida albicans dengan mensekresikan (mengeluarkan) berbagai jenis senyawa asam, seperti asam laktat, asam format (misal Bifidus), asam asetat (
misal B. bifidum), asam linoleat (misal L. acidophilus), dll. Saya belum pernah mendengar ada probiotik yang mengeluarkan senyawa basa. Sedangkan yeast Candida albicans akan berubah bentuk dari bentuk uniseluler menjadi bentuk hyphae yang sangat berbahaya dalam kondisi pH yang lebih tinggi. Oleh karena itu, yeast Candida albicans sering disebut sebagai 'naga tidur', karena jika ia sampai 'bangun', maka masalah besar segera akan datang. Saya mungkin akan mencoba membahas tentang yeast ini di lain kesempatan. 

perubahan pH usus ke arah basa dapat berakibat pada
bertumbuhnya bakteri patogen secara tidak terkendali
(sumber: Internet)

MITOS TIGA. Darah kita memerlukan suasana basa.
pH darah manusia berkisar di antara pH = 7.35 ~ 7.45, yang berarti memang sedikit basa (karena pH > 7). Pendukung air alkali sering menyebutkan bahwa makanan yang termasuk ke dalam 'acid forming foods' (makanan yang banyak mengandung protein / lemak) jika dicerna akan menghasilkan 'sisa asam', dan sisa asam ini akan masuk terserap ke dalam darah, sehingga membuat pH darah kita menjadi asam. Oleh karena itu kita harus minum air alkali untuk menjaga agar pH darah kita tidak asam, begitulah yang dijelaskan oleh pendukung air alkali. Saya tidak tahu darimana mereka (pendukung air alkali) bisa memiliki pemikiran, anggapan, dan kepercayaan seperti itu. Tetapi, yang saya tahu, mereka mungkin tidak pernah belajar mengenai reaksi biokimia yang terjadi di dalam tubuh kita. Tubuh kita adalah suatu 'mesin' yang hebat, yang memiliki 'sensor' yang hebat, dan dikendalikan oleh 'komputer' yang hebat pula, agar selalu mampu mempertahankan 'kondisi operasinya'. Memang pencernaan protein / lemak akan menghasilkan suatu senyawa yang asam (contoh: asam amino, asam lemak, dll.) yang akan terserap ke dalam darah. Tetapi di dalam darah senyawa yang bersifat asam ini akan dihilangkan keasamannya oleh bikarbonat di dalam darah, yang bertindak sebagai buffer (penyangga) pH, menghasilkan carbonic acid (H2CO3). Selanjutnya carbonic acid ini akan dibawa menuju paru - paru, di mana terjadi reaksi yang menghasilkan CO2 dan H2O (air). CO2 (karbondioksida) ini akan dikeluarkan melalui pernafasan. Dengan demikian, tubuh kita berusaha mempertahankan pH-nya agar tidak jatuh (menjadi asam). Dan seperti dituliskan di atas, hal ini terjadi secara 'otomatis', Tuhan sudah menciptakan tubuh kita lengkap dengan segala 'sistemnya'. Lagipula, jika memang pH darah kita dapat berubah sedemikian mudahnya hanya karena makanan seperti diklaim oleh para pendukung air alkali tersebut, maka nenek moyang kita yang hidup sejak 2 juta tahun yang lalu dan hidup dengan mengandalkan berburu pastilah telah mati karena darahnya menjadi asam, sebagaimana 'dituduhkan' oleh para pendukung air alkali. Jika memang benar, maka manusia akan punah, dan tentunya para pendukung air alkali ini tidak akan pernah punya kesempatan untuk membuat teori aneh seperti ini. Sepertinya para pendukung air alkali juga melupakan fakta penting dalam sejarah.

Hal yang kedua adalah, para pendukung air alkali percaya segala aktivitas fisik dan stress dapat menghasilkan senyawa asam, sehingga air alkali harus dikonsumsi untuk meningkatkan pH darah mereka agar tidak menjadi asam. Memang, pH urin (air seni) kita dapat berubah tergantung apa yang kita makan. Begitu juga halnya dengan pH colon (usus), dapat berubah sedikit walaupun sulit, karena pada dasarnya tubuh selalu punya mekanisme untuk mempertahankan 'kondisi idealnya'. Perlu diperhatikan bahwa, perubahan pH pada colon dapat berdampak pada kesehatan (kapan - kapan saya akan bahas, juga tentang acid and alkaline diet). Sedangkan pH darah, yang berkisar di antara pH = 7.35 ~ 7.45 tidak dapat diubah semudah itu. Lebih tepatnya hampir tidak dapat diubah. Aktivitas fisik memang dapat menurunkan pH darah karena timbunan asam laktat di dalam otot dan darah. Sedangkan stress lebih memacu pembentukkan ROS (Reactive Oxygen Species), yaitu suatu radikal bebas, yang lebih mengkhawatirkan daripada pembentukkan senyawa asam. pH darah sendiri dapat berubah menjadi turun (lebih asam) atau naik (lebih basa) karena beberapa faktor. pH darah yang turun sampai pH < 7.3 disebut blood acidosis, dan dapat terjadi karena beberapa hal, seperti: kegemukan, berolahraga terlalu keras, diare, masalah pada ginjal, berada di tempat yang sangat tinggi (> 3000m), penggunaan obat - obatan seperti aspirin dan konsumsi alkohol, dll. Sedangkan pH darah yang berada pada pH > 7.5 akan beresiko mengakibatkan darah menjadi terlalu basa (blood alkalosis). Blood alkalosis dapat terjadi karena: muntah, masalah pada ginjal, menyelam terlalu dalam dan / atau terlalu lama, penggunaan Oksigen murni yang berlebihan, dll.

pH darah tidak dapat dirubah hanya karena air alkali yang kita minum. Hal ini terjadi karena tubuh kita akan berusaha mengeluarkan kelebihan mineral melalui ginjal (ekskresi air seni), paru - paru (ekskresi bikarbonat), dan kulit (ekskresi keringat). Sebagai contoh yang mudah, sehabis berolahraga, tubuh kita menjadi asam karena akumulasi asam laktat yang 'menyebar' (bersirkulasi) di dalam darah, dan kita bernafas lebih cepat untuk membuang CO2 dan mendapatkan O2 yang lebih banyak, yang akan mengurangi tingkat keasaman pada darah secara berangsur / perlahan. Lalu apa hubungan antara bernafas cepat dengan menormalkan pH darah yang 'asam' setelah berolahraga? Bagi yang [pernah] belajar Biokimia, asam laktat yang dihasilkan oleh sel dan 'dilepaskan' ke peredaran darah akan terlarut di dalam darah. Asam laktat yang terlarut di dalam darah akan 'ditangkap' sebagian oleh organ hati / liver. Asam laktat ini lalu akan dioksidasi menjadi senyawa piruvat dengan bantuan enzim lactate dehydrogenase. Senyawa piruvat yang dihasilkan lalu masuk ke mitokondria, untuk mengalami reaksi berikutnya. Dalam tahapan berikutnya, ada 2 kemungkinan reaksi biokimia. Pertama, piruvat akan masuk ke 'siklus asam sitrat' menghasilkan senyawa ATP yang merupakan sumber energi tubuh dengan bantuan enzim pyruvate dehydrogenase complex. Kemungkinan kedua, adalah reaksi yang dinamakan 'jalur gluconeogenesis', di mana piruvat akan bereaksi dengan molekul bikarbonat menghasilkan senyawa oxaloacetate dengan bantuan enzim pyruvate carboxylase, dan setelah mengalami serangkaian reaksi pada akhirnya akan kembali menghasilkan glukosa. Reaksi oksidasi asam laktat ini membutuhkan lebih banyak Oksigen, dan inilah alasan kita bernafas lebih cepat ketika / setelah berolahraga. Setelah berolahraga, tubuh kita 'mengubah' asam laktat menjadi senyawa ATP atau glukosa, sehingga pH darah [diharapkan] dapat kembali berangsur normal setelah berolahraga, tanpa perlu bantuan dari air alkali. Memang, reaksi biokimia yang terjadi di dalam tubuh untuk menormalkan kondisi tubuh (misal: pH darah) sangatlah sulit, sehingga orang awam (termasuk pendukung air alkali) seringkali membuat teori sendiri yang 'disederhanakan' dengan menambahkan imajinasi mereka, dan celakanya justru teori palsu ini (mengenai manfaat air alkali untuk memelihara pH darah) terlihat lebih meyakinkan sehingga 'beredar luas' di khalayak. 


berhati-hatilah terhadap klaim mengenai suatu
produk yand mungkin dapat menyesatkan
(sumber: animé)

MITOS EMPAT. pH urin merupakan gambaran / cerminan dari pH darah.
Anggapan ini lagi - lagi SALAH, karena pH urin bergantung pada apa yang dimakan atau diminum, dan dalam banyak kasus tidak mencerminkan pH dalam darah. Mereka yang suka mengkonsumsi sayur akan cenderung mengeluarkan urin dengan pH basa (walau dalam beberapa kasus bisa saja asam, seperti misalnya pada gandum), sedangkan mereka yang suka mengkonsumsi daging akan mengeluarkan urin dengan pH asam. Walaupun konsep pH sendiri baru diperkenalkan pada tahun 1900an oleh ilmuwan Denmark bernama Søren Sørensen, tetapi konsep asam - basa dan indikatornya sudah cukup dikenal oleh para ahli kimia dan kedokteran sejak tahun 1700an. Untuk membuktikan apakah jenis makanan dapat mempengaruhi derajat keasaman urin (pada waktu itu, konsep pH belum ditemukan, tetapi konsep asam / basa sudah ada), percobaan pada obyek non-manusia (yaitu kelinci) pernah dilakukan pada tahun 1846 (artikel dapat dibaca di sini). Kelinci yang lucu imut - imut dan tak berdosa itu dijadikan sebagai obyek percobaan dan 'dipaksa' untuk memakan daging selama beberapa bulan, dan selama percobaan tersebut tingkat keasaman urinnya dimonitor. Pada penelitian ini, sebelum percobaan dilakukan, seluruh kelinci memiliki urin yang bersifat basa. Selama percobaan, kelinci pada 'control group' (diberi makan sayuran) tetap memiliki urin dengan sifat basa, sedangkan kelinci pada 'variable group' (diberi makan daging) memiliki urin dengan sifat asam. Dengan ilmu saat ini, sifat asam pada urin yang dihasilkan oleh kelinci (dan juga manusia) yang memakan daging dalam jumlah yang cukup banyak disebabkan karena daging mengandung senyawa cysteine dan methionine, yang akan dimetabolisme menghasilkan senyawa asam. Asam ini akan disekresikan melalui saluran kemih, sehingga menurunkan pH urin menjadi asam. Sedangkan senyawa yang terdapat dalam sayuran dan buah - buahan akan 'disederhanakan' menjadi senyawa sederhana seperti citrate dan malate yang untuk selanjutnya akan diubah menjadi senyawa bikarbonat oleh liver. Bikarbonat adalah senyawa basa yang akan diekskresikan melalui urin.

Oleh karena senyawa dari makanan yang dicerna dan diserap oleh tubuh akan 'diangkut' oleh darah ke seluruh tubuh, maka senyawa asam / basa yang terbentuk atau dihasilkan dari sisa proses pencernaan maupun hasil metabolisme akan 'diangkut' juga ke 'tempat pembuangan'. Tempat pembuangan itu adalah (1) ginjal, (2) paru - paru, dan (3) kulit. Oleh karena paru - paru hanya bisa mengeluarkan CO2 untuk mengeluarkan kelebihan bikarbonat dalam darah, sedangkan ekskresi melalui kulit (keringat) jumlahnya tidak terlalu banyak (kecuali saat berolahraga atau kepanasan), maka ekskresi melalui ginjal (dalam bentuk urin) merupakan kunci utama dalam mempertahankan pH darah. Sehingga, kelebihan asam ataupun basa akan dikeluarkan paling banyak melalui urin, sehingga inilah alasan mengapa pH urin orang yang sehat akan bervariasi di antara pH = 5.5 ~ 7.5. Tetapi, karena satu dan lain hal, misalnya menahan kencing, pola makan, dan sebagainya, pH urin dapat pula berada di kisaran pH = 4.2 ~ 8. pH urin yang terlalu asam (pH < 5.1) akan berpotensi menimbulkan batu ginjal, sedangkan pH yang terlalu basa (pH > 7.5) akan membuat saluran kelamin menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Sedangkan pH > 8.1 dalam waktu lama dapat mengindikasikan adanya infeksi pada saluran kencing atau kelamin. Berdasarkan penjelasan ini, di mana 3 organ tubuh (ginjal, paru - paru, kulit) memiliki fungsi untuk mengeluarkan kelebihan asam / basa, maka bisa kita simpulkan bahwa tugas mereka adalah untuk menjaga pH darah kita. Dengan kata lain, pH darah kita akan selalu berada pada kisaran pH = 7.35 ~ 7.45. Artinya, pH darah tidak berhubungan dengan pH urin.

pH darah bisa menjadi tidak terkendali jika ginjal mengalami kerusakan atau metabolisme tubuh yang abnormal. Jika ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik, maka kelebihan asam / basa tidak dapat diekskresikan, sehingga akan terakumulasi di dalam darah dan mempengaruhi pH darah. Jika hal ini terjadi, maka akan sangat berbahaya, karena pH darah dapat berubah dengan mudah, dan jika pH darah berada di luar batas normal (< 7.2 atau > 7.6) maka dapat menjadi berbahaya dan berujung pada kematian. Dalam kasus seperti ini, menjaga (mempertahankan) pH darah melalui makanan / minuman memang menjadi sangat penting, tetapi tentunya akan jauh lebih susah daripada hanya sekedar 'alkaline diet' atau 'alkaline water' saja. Walaupun begitu, air alkali mungkin dapat berguna untuk mencegah pembentukan batu ginjal, yang dapat terbentuk jika urin memiliki pH asam dalam rentang waktu yang lama. Tetapi, perlu diingat juga, bahwa jika pH urin terlalu basa dalam rentang waktu yang lama, hal ini juga dapat 'mengundang' bakteri penginfeksi kandung kemih / kelamin untuk bermukim. Jadi, mempertahankan pH urin supaya menjadi basa tidak selamanya baik. 

Pada mereka yang mengalami metabolisme yang tidak normal, yang disebabkan oleh penderita diabetes melitus tipe 1, tubuh tidak dapat memproduksi insulin. Insulin diperlukan untuk mengubah gula darah (glukosa) menjadi gula otot (glikogen), karena otot hanya bisa menggunakan gula dalam bentuk glikogen. Pada penderita diabetes, otot tidak bisa menggunakan gula yang tersedia dari dalam darah. Akibatnya, tubuh harus mencari sumber energi lain. Sehingga, metabolisme akan berlangsung melalui proses biokimia yang bernama 'ketosis'. Pada proses ini, lemak sebagai sumber energi melalui proses ketosis ini akan diuraikan menjadi senyawa yang bernama golongan keton. Senyawa keton yang lazim diproduksi oleh tubuh bernama acetoacetic acid dan β-hydroxybutyrate acid. Sesuai namanya, keton ini bersifat asam dan jika terakumulasi di dalam darah akan menyebabkan pH darah menjadi turun (bersifat asam). Kondisi ini dinamakan ketoacidosis. Dalam kasus ini, pemberian air alkali atau suntikan bicarbonate IV (intravenous) -- walaupun kontroversial -- dapat menjadi salah satu solusi. Ketoacidosis (pH darah yang menjadi asam karena akumulasi keton yang berasal dari proses metabolisme bernama 'ketosis') dapat terjadi juga pada mereka yang mengkonsumsi daging sebagai makanan utama serta asupan karbohidrat yang sangat sedikit (kurang dari 50 gram per hari) dalam waktu lama, sebagaimana dilakukan oleh para penganut Paleo diet. Perlu diperhatikan bahwa pada orang normal yang menjalani Paleo diet (makanan yang mayoritas mengandung protein dan lemak), kadar gula darah akan tetap normal karena gliserol yang berasal dari molekul lemak akan diubah menjadi glukosa melalui proses yang bernama gluconeogenesis, untuk selanjutnya sebagian kecil glukosa akan diubah lagi menjadi glikogen dengan bantuan hormon insulin. Akan tetapi, karena akumulasi keton dalam darah berpeluang untuk berkembang menjadi ketoacidosis, jumlah asupan lemak dan protein harus dihitung dan dimonitor dengan benar.


walaupun pH urin tidak berhubungan dengan pH darah,
sangatlah penting untuk memeriksakannya secara berkala
(sumber: ada deh... ㋡)
MITOS LIMA. Air alkali dapat menghasilkan mineral alkali yang bermanfaat bagi kesehatan.
Produsen dan pendukung air alkali mengklaim bahwa air alkali dapat menghasilkan mineral alkali seperti Ca (kalsium), Na (natrium / sodium), K (kalium), Fe (besi), Ma (magnesium), dan lain - lain, yang bermanfaat bagi kesehatan. Mineral ini akan diserap dalam bentuk ion. Faktanya, tidak semua mineral akan diserap dalam bentuk ion. K dan Na memang akan lebih mudah diserap dalam bentuk ionnya, sedangkan Mg dan Ca dapat diserap dalam bentuk anorganik (ion) ataupun organik (misal: Mg-gluconate). Beberapa mineral lain, seperti Fe biasanya diserap paling baik dalam bentuk heme iron (yaitu suatu senyawa organik di mana ion
Fe2+ berikatan pada suatu senyawa protein) dibandingkan dengan ion Fe2+ nya. Bahkan, ion Fe3+ sangat sulit untuk diserap oleh tubuh. Sehingga, klaim bahwa air alkali mengandung ion logam yang mudah diserap oleh tubuh jelas menyesatkan, karena tidak semua mineral mudah diserap oleh tubuh dalam bentuk ionnya. Tingkat kemudahan suatu zat / nutrisi / mineral untuk dapat diserap oleh tubuh disebut dengan bioavailability.

contoh stuktur heme iron (kiri) dan Mg-gluconate (kanan)
(sumber: Internet)


Salah satu senyawa basa yang dapat diserap dan dimanfaatkan tubuh dan mampu mengubah pH darah (walaupun efeknya hanya sementara) adalah ion bikarbonat (HCO3 -). Masalahnya, karena air alkali dihasilkan dari alat yang disebut ionizer (yang bekerja berdasarkan prinsip elektrolisis), sangatlah sulit untuk menghasilkan ion bikarbonat dari reaksi elektrolisis, mengingat kita tidak dapat mengatur komposisi dan kandungan senyawa yang terdapat di dalam air baku. Lantas, dari manakah air baku tersebut berasal? Apakah dari air sumur? Atau dari sumber mata air? Atau dari sungai? Kita tidak pernah tahu senyawa apa saja yang terdapat di dalam air baku, dan walaupun alat ionizer -- baik yang dipasang di rumah ataupun pada pabrik tempat air alkali diproduksi -- biasanya (dan seharusnya) diperlengkapi dengan carbon filter yang ditempatkan sebelum alat ionizer, tetapi beberapa jenis senyawa baik ionik (misal: senyawa fluorin, ion nitrate, dll) maupun non-ionik (misal: sisa pestisida, limbah dari sabun, dll.) tetap bisa lolos dari filter dan masuk ke ionizer, dan ketika senyawa tersebut dielektrolisis, kita juga tidak tahu senyawa apa yang akan dihasilkan dan seberapa besar potensi bahayanya bagi kesehatan. Resiko ini akan meningkat jika carbon filter tidak dibersihkan / diganti secara berkala. Juga, pada mesin penghasil air alkali (baik yang dipasang di rumah maupun di pabrik) biasanya memiliki elektrode dari platinum ataupun timbal, dengan bagian dalam mesin yang dilapisi nikel. Logam berat seperti platina, nikel, arsen, timbal, kadmium, dll. dapat 'dilepaskan' oleh instalasi penghasil air alkali ini pada saat proses elektrolisis berlangsung, yang bertujuan agar pH > 7 dapat dicapai, sehingga dapat disebut sebagai air alkali. Logam - logam ini sangat beracun dan berbahaya bagi kesehatan. Alih - alih bermanfaat bagi kesehatan seperti apa yang dijanjikan produsen, faktanya malah [berpotensi] membahayakan kesehatan.
 

Bersambung ke PART II (klik di sini)

P.S.:
Jika ingin mengutip sebagian artikel ini, anda dipersilahkan melakukannya. Tetapi, harap dituliskan sumbernya. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk menulis artikel ini, jadi hargailah hasil dan hak intelektual milik orang lain. Terima kasih telah mengunjungi blog ini.

 

Monday, December 28, 2015

Berdasarkan Kondisi Mikroflora Ususnya, Anak - Anak di Jepang Dinyatakan Sehat

 kategori: kesehatan, mikrobiologi, seputar Jepun

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Jiro Nakayama (Associate Professor di Program Studi Pertanian Pascasarjana Universitas Kyushu) dan Dr. Koichi Watanabe (Pusat Penelitian Mikrobiologi Yakult) mengungkapkan bahwa berdasarkan komposisi mikroflora ususnya, usus anak - anak di Jepang memiliki lebih banyak bakteri Bifidus sedangkan 'bakteri jahat' seperti Escherichia coli dan sebagainya memiliki komposisi yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan anak - anak seusia mereka di negara Asia lainnya. Program penelitian ini merupakan salah satu bagian dari 'Proyek Analisis Mikroflora Usus Pada Anak' yang dilakukan di 5 negara di Asia (Jepang, RRC / Tiongkok, Taiwan, Thailand, dan Indonesia). Proyek ini dipimpin oleh Dr. Lee Yuan Kun, Associate Professor di Universitas Nasional Singapura (NUS). Berdasarkan hasil analisis terhadap komposisi mikroflora usus yang dianggap dapat mempengaruhi kesehatan seseorang tersebut, anak - anak di Jepang dapat dikatakan memiliki kondisi mikroflora usus yang sehat. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah online 'Scientific Reports' edisi bahasa Inggris tertanggal 23 Februari 2015.

Di dalam usus manusia, terdapat ratusan jenis (spesies) mikroorganisme dengan jumlah total sekitar 100 trilyun (100,000,000,000,000) sel yang yang mendiami usus kita. Mikroorganisme penghuni usus ini akan membentuk suatu komunitas ekosistem yang disebut dengan mikrobioma (microbiome). Komposisi dan kondisi mikroflora usus seseorang akan berbeda dengan orang lain. Adapun faktor yang mempengaruhi kondisi dan komposisi mikroflora usus seseorang adalah: kebiasaan makan sehari - hari, obat - obatan yang dikonsumsi, kondisi kesehatan, keadaan lingkungan sekitar, dan banyak faktor lainnya. Asia merupakan wilayah yang dihuni oleh penduduk dari beragam ras dengan pola makan yang bervariasi pula, sehingga komposisi mikroflora usus seperti apa yang dimiliki oleh orang Asia di negara tertentu, menjadi topik yang sangat menarik jika dilihat dari sudut pandang ilmu kedokteran maupun ilmu kesehatan. Dengan alasan ini, para ilmuwan dan peneliti dari 5 negara memutuskan untuk turut ambil bagian dalam proyek penelitian ini. Artikel ini merupakan laporan hasil penelitian tahap I dari proyek tersebut.


tabel hasil analisis sampel feses

Dalam penelitian ini, siswa - siswi SD yang dalam kesehariannya relatif tidak terlalu terpengaruh oleh kebudayaan asing dipilih sebagai 'obyek penelitian' (penulis: tujuannya agar data hasil penelitian pada anak - anak di suatu negara dapat dibandingkan dengan data yang diperoleh di negara lain). 2 lokasi (kota) dipilih dari setiap negara [yang menjadi lokasi penelitian], dan dari setiap kota setidaknya 25 murid SD berusia 7 ~ 11 tahun (total 303 murid dari 10 lokasi) dipilih secara acak untuk diperiksa / dianalisa fesesnya agar komposisi mikroflora ususnya dapat diketahui, sedangkan pola makannya juga dianalisis berdasarkan angket dari setiap murid. Hasil analisis menunjukkan bahwa komposisi mikroflora usus pada anak - anak di Asia dapat dibagi menjadi 2 tipe (golongan) utama. Tipe pertama adalah mikroflora usus yang didominasi oleh bakteri Bifidus dan bakteri golongan Bacteroides yang lazim dijumpai pada usus anak di Jepang, Tiongkok, dan Taiwan. Tipe pertama ini disebut tipe BB (penulis: Bacteroides adalah golongan bakteri yang berguna bagi tubuh jika berada di dalam usus, tetapi dapat menyebabkan berbagai penyakit dengan resiko kematian 20% jika sampai masuk ke aliran darah atau menginfeksi suatu organ tubuh). Sedangkan tipe kedua disebut tipe P, yang merujuk pada bakteri golongan Prevotella yang mendominasi usus anak - anak di Indonesia dan Thailand (penulis: Prevotella adalah golongan bakteri opportunistic pathogen pada manusia yang seringkali ditemui pada mereka yang pola makannya disominasi oleh karbohidrat dan karbohidrat kompleks ; bakteri ini lazim terdapat di dalam usus hewan memamah biak dan keberadaan bakteri ini pada usus manusia dianggap dapat mempengaruhi sekresi asam lambung).

Bakteri genus Prevotella memiliki enzim yang kuat yang mampu 'memecah' serat makanan, dan karena penduduk di Asia Tenggara memiliki kebiasaan makan makanan yang mengandung serat dan pati yang sulit dicerna, hal ini sepertinya menjadi penyebab mengapa usus anak - anak di Asia Tenggara didominasi oleh bakteri tipe P. Sedangkan anak - anak di Jepang memiliki komposisi mikroflora usus yang unik jika dibandingkan dengan anak - anak di negara lain, di mana komposisi Bifidus sangat banyak dan 'bakteri jahat' seperti Escherichia coli dkk. secara umum memiliki komposisi yang sedikit. Juga, oleh karena jenis bakteri yang terdapat di dalam usus anak - anak di Jepang tidaklah banyak, hal ini juga menyebabkan komposisi mikroflora usus antara seseorang dengan orang lain di Jepang menjadi tidak terlalu berbeda secara signifikan. Kedua hal ini dipercaya memiliki dampak yang baik terhadap kesehatan. Sehingga para peneliti juga memiliki anggapan bahwa, "kebiasaan makan dan pola hidup sehat yang dianut oleh masyarakat Jepang ternyata juga berdampak pada karakteristik mikroflora ususnya". 

Dr. Jiro Nakayama juga mengatakan, "Hasil penelitian yang membuktikan bahwa komposisi mikroflora usus anak - anak di Jepang yang didominasi oleh bakteri Bifidus akan menarik perhatian lebih lanjut dari para peneliti di Asia mengenai pola / kebiasaan makan masyarakat Jepang. Untuk tahapan penelitian selanjutnya, kami juga ingin mengetahui mengenai faktor - faktor dari makanan seperti apakah yang berperan dalam mendukung pertumbuhan bakteri Bifidus, sehingga penelitian ini diharapkan dapat mendukung anak - anak untuk menjadi lebih sehat. Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa anak - anak di Jepang memiliki bakteri Bifidus dalam jumlah yang banyak sementara bakteri jahat seperti E. coli dkk. jumlahnya sedikit, dan hal ini dapat dilihat sebagai suatu keuntungan. Akan tetapi, ada juga beberapa masalah lain yang timbul seperti kasus alergi yang terus bertambah. Hal ini juga memerlukan penelitian lebih lanjut, mengenai apakah bakteri Bifidus juga dapat memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan atau tidak." 


(sumber: lihat referensi)

catatan:
* artikel ini adalah artikel terjemahan dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia ; bagi yang tertarik dengan bahasa Jepang dapat membaca artikel aslinya di sini
* bagi yang tertarik dengan dunia ilmiah dan ingin tahu lebih dalam, jurnal ilmiah (bukan artikel..!!) dalam bahasa Inggris dapat dilihat di sini

P.S.:
Jika ingin mengutip sebagian artikel ini, anda dipersilahkan melakukannya. Tetapi, harap dituliskan sumbernya. Walaupun ini adalah artikel terjemahan, tetapi diperlukan waktu dan konsentrasi untuk menterjemahkannya ; jadi hargailah hasil dan hak intelektual milik orang lain. Terima kasih telah mengunjungi blog ini.




Referensi:
http://scienceportal.jst.go.jp/news/newsflash_review/newsflash/2015/02/20150225_04.html
http://www.nature.com/articles/srep08397?trendmd-shared=0

Tuesday, December 22, 2015

Yoghurt, Rahasia Tubuh Sehat dan Umur Panjang?

kategori: kesehatan, mikrobiologi

Pendahuluan
Siapa sih yang tidak mengenal yoghurt? Cairan putih kental dan masam yang terbuat dari susu ini dipercaya memiliki seribu satu khasiat, dari menyembuhkan [beberapa] jenis penyakit sampai memelihara kecantikan dan kehalusan kulit. Begitulah khasiat yoghurt yang diklaim oleh para produsen yoghurt. Tetapi benarkah faktanya demikian? Lalu, dari mana yoghurt berasal? Benarkah ada berbagai jenis yoghurt dengan manfaat yang berbeda? Benarkah meminum yoghurt ada aturannya? Berikut cerita lengkapnya. Mohon maaf kalau di artikel ini banyak cerita Sejarah, soalnya saya suka Sejarah.

Etimologi
Kata 'yoghurt' berasal dari bahasa Arab Turki, یوغورت (baca: yağurt) yang berarti menjadi kental.

Sejarah Yoghurt
Catatan tertua mengenai susu yang difermentasi (yang dikenal dengan nama yoghurt saat ini) yang berhasil ditemukan dan diartikan sampai saat ini berasal dari Herodotus (484 - 425 SM), seorang sejarawan Yunani yang dalam catatannya menulis, bahwa orang - orang di Tarsus memiliki kebiasaan mengkonsumsi susu masam yang menurut kepercayaan mereka diturunkan dan diajarkan langsung oleh Dewa. Ada juga ilmuwan jaman dahulu yang bernama Hippocrates (460 - 370 SM), seorang filsuf, dengan pernyataannya yang berbunyi bahwa "semua penyakit berasal dari perut". Kelak, pernyataan ini akan dikonfirmasi (dibuktikan) oleh seorang ilmuwan Jepang yang bernama Dr. Minoru Shirota (1899 - 1982) yang tak lain adalah 'bapaknya Y☆kult'. Melalui penelitian panjangnya, beliau berkesimpulan bahwa "rahasia umur panjang berawal dari kesehatan pencernaan".

Sedangkan bukti arkeologi tertua mengenai jejak 'susu masam' ini berasal dari Libya, di mana Dr. Richard Evershed -- seorang ahli mikrobiologi prasejarah -- dalam analisanya menemukan jejak asam laktat (asam laktat adalah suatu senyawa yang dapat dijumpai di dalam yoghurt) di dalam pot keramik yang ditengarai telah berumur 7,000 tahun atau lebih pada tahun 1970an. Di dalam situs ekskavasi (situs penemuan) juga ditemukan gambar kuno yang mendeskripsikan hewan ternak dan kegiatan memerah susu.


ilustrasi: pada jaman prasejarah, untuk membuat
yoghurt pun harus mempertaruhkan nyawa, ya...
(sumber: Internet ; dengan penyuntingan)

Sejarah Modern 'Penemuan' Yoghurt
Salah satu manfaat dari yoghurt yang terkenal yang tercatat di dalam sejarah adalah cerita tentang Raja Perancis, King François Ier (1494 - 1547). Pada suatu ketika, Sang Raja menderita suatu penyakit yang [tampaknya] sederhana, tetapi sangat mengganggu dan membuat menderita: DIARE. Pada saat itu, tidak ada tabib yang mampu mengobati penyakitnya, sehingga Sang Raja mengirim utusan khusus untuk mengirim surat ke Kesultanan Ottoman (sekarang berada di wilayah Turki) yang merupakan sekutunya, yang isinya meminta 'bantuan' untuk mengatasi masalahnya tersebut. Sang Sultan segera menjawab permintaan Raja Perancis dengan mengirimkan seorang tabib terbaiknya bersama armada lautnya yang berisi pelaut, prajurit, dan sejumlah domba. Setibanya di Perancis, sang tabib dengan yoghurtnya berhasil menyembuhkan penyakit diare sang Raja Perancis yang telah diderita selama berbulan - bulan hanya dalam waktu beberapa minggu setelah secara rutin meminum susu fermentasi yang disediakan oleh tabib tersebut. Sejak saat itu, Sang Raja selalu rutin mengkonsumsi yoghurt untuk menjaga kesehatannya. Dan cerita ini pun menyebar ke seluruh Perancis, lalu ke daratan Eropa.

Setelah beberapa abad, kebiasaan mengkonsumsi yoghurt pada abad pertengahan lebih menjadi bagian dari budaya dan simbol status, sementara manfaatnya bagi kesehatan mulai terlupakan. Sampai suatu ketika, Prof. Ilya Mechnikov (1845 - 1916), pemenang nobel fisiologi / kedokteran di tahun 1908, yang merupakan ilmuwan Rusia yang bekerja di Pasteur Institute, Paris ini menemukan bahwa banyak kasus kematian dini (kematian pada usia di bawah usia harapan hidup, terutama pada usia produktif) disebabkan oleh akumulasi toksik (racun) di dalam jaringan tubuh yang dihasilkan oleh bakteri putrefaktif (bakteri pembusuk) pada saat 'memecah' makanan yang mengandung protein di dalam usus manusia. Toksik (racun) yang terakumulasi di dalam tubuh ini diklaim oleh Ilya Mechnikov dapat membuat seseorang meninggal lebih cepat daripada seharusnya. Di satu sisi, dalam suatu perjalanan, beliau juga menemukan banyaknya orang di Bulgaria yang hidup sehat dan mencapai usia lebih dari 100 tahun. Dan beliau menyadari bahwa semua orang Bulgaria yang hidup di atas 100 tahun tersebut memiliki kebiasaan yang sama: meminum yoghurt. Murid dari Ilya Mechnikov yang bernama Dr. Stamen Grigorov berhasil mengisolasi dan menemukan bahwa mikroba yang berperan dalam proses fermentasi yoghurt ini adalah bakteri dari golongan Lactobacillus, dan dinamai Bacillus Grigorov, walaupun saat ini lebih dikenal dengan nama Lactobacillus bulgaricus, sesuai dengan lokasi pertama ditemukannya bakteri pemfermentasi yoghurt ini. Prof. Ilya Mechnikov lalu berhasil melakukan serangkaian eksperimen untuk membuktikan bahwa bakteri Lactobacillus di dalam yoghurt dapat menginhibisi (menghambat) proses putrefikasi (pembusukan) protein dalam makanan yang mengakibatkan terakumulasinya toksik dalam tubuh. Hal inilah yang menghantarkan Ilya Mechnikov untuk mendapatkan nobel fisiologi / kedokteran pada tahun 1908.


jika jumlah 'mikroba jahat' lebih banyak daripada 'mikroba baik', 
maka berbagai masalah dan gangguan kesehatan dapat timbul
(sumber: http://nekotora.jp/unchi/benpikana_ag.html)

Pada tahun 1916, Isaac Carasso (1874 - 1939), seorang Yahudi keturunan Kesultanan Ottoman, pindah dari Yunani ke Spanyol, lalu pada tahun 1919 mendirikan perusahaan Danone di Spanyol. Perusahaan ini memproduksi yoghurt secara massal pertama di dunia di dalam pabrik dengan proses yang sangat modern untuk saat itu. Sekitar 10 tahun kemudian, anaknya yang bernama Daniel Carasso (1905 - 2009) dikirim ke Perancis untuk belajar di Sekolah Bisnis Marseilles sekaligus belajar ilmu bakteri (bakteriologi) di Pasteur Institute, dan tercatat juga sebagai anggota 'Komunitas Pecinta Yoghurt di Paris' (La Société Parisienne du Yoghourt). Pada tahun 1939, beliau membuka pabrik yoghurt di Paris mengikuti jejak ayahnya. Daniel Carasso yang meninggal pada usia lebih dari 100 tahun mungkin dapat dijadikan referensi, di mana salah satu khasiat yoghurt adalah dapat 'memperpanjang umur'.

Sementara itu, di tempat lain yang berjarak ribuan mil dari Perancis, pada akhir tahun 1920an (jauh sebelum Jepang dibom atom oleh A.S.), Dr. Minoru Shirota (1899 - 1982) berkeyakinan bahwa 'mikroba baik' (disebut sebagai probiotik) mampu meningkatkan kesehatan pencernaan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup (panjang umur, jauh dari penyakit, dll.) bagi orang yang mengkonsumsinya. Pada waktu itu, usia harapan hidup warga Jepang sangat rendah, dan banyak yang menderita penyakit. Melalui penelitiannya yang panjang di laboratorium Mikrobiologi Kyoto Imperial University, pada tahun 1930, akhirnya beliau berhasil mengisolasi suatu strain dari Lactobacillus (L. casei), dan minuman probiotik tersebut mulai dipasarkan secara komersial pada tahun 1935. Pasca kekalahan Jepang pada Perang Dunia II, di mana dua kota luluh - lantak setelah dijatuhi bom atom, dan kota - kota besar lainnya juga hancur karena bom, Jepang dihadapkan pada masalah sanitasi yang sangat buruk dan merebaknya wabah penyakit menular seperti disentri, kolera, dan typhus. Pada saat itu, Y
☆kult diproduksi secara massal dan didistribusikan ke seluruh penjuru negeri sebagai suatu counter-measure untuk 'memerangi' wabah penyakit ini, dan menunjukkan hasil yang mencengangkan tetapi menggembirakan, sekaligus membuktikan kesimpulan dari Dr. Minoru Shirota yang berkata bahwa "rahasia umur panjang berawal dari kesehatan pencernaan".

Hasil penelitian yang telah teruji di mana Y☆kult cukup sukses dalam melawan penyebaran penyakit menular pasca PD II ini berkontribusi sangat besar dengan merevolusi 'kepercayaan' warga di Jepang, bahkan sampai dengan saat ini. Saat ini, sebagian besar masyarakat Jepang merupakan penikmat yoghurt, dan ada banyak sekali jenis yoghurt yang dijual di Jepang. Konsumsi yoghurt per kapita masyarakat Jepang sebesar 3.7 kg per tahun per orang (data tahun 2013). Bandingkan dengan Perancis yang konsumsi per kapitanya 21.3 kg, Turki dengan 21.4 kg, Belanda dengan 21.7 kg, Argentina dengan 7.8 kg, Amerika dengan 6.7 kg, RRC (Tiongkok) dengan 3.4 kg, dan India dengan 0.4 kg. Sedangkan Indonesia hanya memiliki tingkat konsumsi per kapita sebesar 0.3 kg per kapita per tahun.  


kiri: di Jepang, memilih yoghurt sesuai kebutuhan bisa sangat membingungkan
kanan: di Indonesia. yang paling membingungkan adalah memilih produk sambal
(sumber: dokumen pribadi)

Apa itu Yoghurt?
Mengapa Kita Harus Mengkonsumsinya?
 

Yoghurt adalah susu yang difermentasi oleh suatu jenis bakteri yang disebut bakteri asam laktat (乳酸菌) selama beberapa waktu, sedemikian rupa sehingga produk fermentasi yang dihasilkan memiliki rasa masam (asam). Susu yang dipakai bisa berasal dari susu sapi, susu kambing, bahkan susu kacang kedelai. Sedangkan tingkat keasaman dari yoghurt itu sendiri tergantung kepada lamanya proses fermentasi, temperatur proses fermentasi, dan jenis bakteri yang digunakan.
 
dadiah, yoghurt tradisional dari Minangkabau
dibuat dengan memfermentasi susu kerbau

(sumber: Internet)


Di dalam saluran pencernaan, bakteri asam laktat dari yoghurt ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan mikroflora usus. Oleh karena fungsinya ini, maka yoghurt disebut sebagai salah satu sumber probiotik. Probiotik adalah mikroorganisme (biasanya merupakan bakteri, tetapi tidak harus selalu bakteri) yang berfungsi menjaga keseimbangan mikroflora usus (terutama usus besar), sehingga 'kuman jahat' dapat dibatasi perkembangan / pertumbuhannya. Tugas lain dari probiotik adalah menjaga kondisi usus (salah satunya pH) agar tetap berada dalam kondisi tertentu. pH usus ini harus dijaga agar tidak terjadi pembentukkan senyawa toksin. Probiotik juga berfungsi untuk menguraikan / menetralisir senyawa toksin / racun yang dihasilkan oleh 'kuman jahat' melalui beberapa mekanisme. Mengenai probiotik, keseimbangan mikroflora usus, dan pengaruhnya terhadap kesehatan akan saya jelaskan di lain kesempatan.

Nah, di dalam usus besar kita, bakteri asam laktat alias bakteri yoghurt alias bakteri probiotik ini akan memproduksi suatu jenis senyawa asam. Senyawa asam yang dihasilkan ini akan bergantung kepada jenis bakteri probiotik itu sendiri. Senyawa asam ini dapat berfungsi sebagai inhibitor (penghambat) pertumbuhan mikroorganisme yang jahat, seperti bakteri Escherichia coli, Clostridium difficile, Helicobacter pylori, Candida sp., dan lain - lain. Sebagian besar mikroorganisme yang berada di dalam usus kita memiliki peran dan fungsinya masing - masing, sehingga tidak bisa 'dibunuh' begitu saja. Hanya saja, jika populasinya tidak terkendali maka beberapa jenis mikroba dapat / akan menimbulkan masalah kesehatan. Contohnya adalah bakteri Escherichia coli, yang dalam populasi sedikit akan berfungsi untuk mensintesis (menghasilkan) vitamin K yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh ; tetapi jika populasinya terlalu banyak akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan, seperti diare berdarah, infeksi saluran kemih, keracunan (bakteri E. coli dapat menghasilkan toksin yang dapat terserap usus dan masuk ke aliran darah), pneumonia, dan lain - lain. Oleh karena itu, populasi kuman jahat harus bisa dikendalikan, dan salah satu caranya adalah dengan mengkonsumsi yoghurt secara rutin.

Adapun manfaat dari yoghurt yang lainnya adalah, bakteri probiotik di dalam yoghurt ini mampu memproduksi vitamin B yang kita butuhkan, memproduksi asam amino, 'memecahkan' laktosa (disebut juga 'gula susu') yaitu suatu senyawa disakarida (senyawa gula rangkap) menjadi senyawa monosakarida (senyawa gula tunggal) sehingga sangat membantu mereka yang alergi terhadap susu (lactose intolerant), mampu memproduksi suatu senyawa yang dapat menghambat / membunuh kuman patogen, merangsang pembentukan imun kompleks (B-lymphocytes, IgA, IgG, IgM, γ-interferon, dll.), meringankan / menyembuhkan masalah alergi, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan resiko kanker kolon, membantu proses penyembuhan ulcers (perlukaan) pada dinding usus,
mencegah sembelit dan memperlancar BAB (buang air besar), mampu meringankan / menyembuhkan keputihan pada kaum hawa, dapat membantu meningkatkan imunitas bayi dengan cara ditransmisikan ke bayi bagi dari / bagi ibu hamil dan menyusui, dan lain - lain.

Berkenalan dengan Bakteri Yoghurt
Ada lebih dari 50 jenis bakteri yang telah diidentifikasi yang dapat digunakan untuk membuat yoghurt. Bakteri ini biasanya diisolasi dari sampel yang telah ada (misal: yoghurt tradisional, KEFIR, usus manusia, dari feses, dll.) atau diisolasi dari tanah, daun, dan sebagainya. Tetapi, akhir - akhir ini, ada juga yoghurt yang dibuat dari bakteri GMO (Genetically Modified Organism), yaitu bakteri yang merupakan hasil dari proses rekayasa genetika. Kemanan dari yoghurt GMO ini masih dipertanyakan. Walaupun begitu, secara umum, bakteri yoghurt ini dapat diklasifikasikan ke dalam 2 golongan, yaitu:

A. Resident probiotic (bakteri pengkoloni usus) 

Sesuai namanya, bakteri golongan ini merupakan bakteri yang akan tetap tinggal di dalam usus kita dalam waktu lama setelah dikonsumsi. Bakteri jenis ini biasanya membantu proses pencernaan, menghasilkan vitamin, menguraikan toksin, dan menciptakan 'lapisan pelindung' pada usus agar tidak mudah dimasuki oleh kuman patogen. Contoh terkenal dari bakteri ini adalah bakteri dari genus Bifidobacterium. Bakteri ini merupakan bakteri yang pertama kali 'menghuni' usus kita, dan dibawa melalui ASI pada saat bayi sedang meyusui. Kelebihan dari bakteri ini adalah bahwa mereka dapat mengkolonisasi (menghuni) usus besar kita dalam waktu yang lama, tetapi kekurangannya adalah bahwa bakteri ini mudah mati.

B. Transient probiotic (bakteri non-pengkoloni usus)
Bakteri jenis ini akan tinggal selama 5 ~ 20 hari di dalam usus kita setelah dikonsumsi. Bakteri jenis ini biasanya memiliki peran untuk mengaktifkan sistem kekebalan tubuh atau berperan langsung dalam memerangi kuman patogen. Kelebihan dari bakteri ini adalah bahwa bakteri ini biasanya lebih aktif dan agresif dalam melawan kuman patogen, tetapi kekurangannya adalah bahwa mereka hanya tinggal sementara di dalam usus. Contoh terkenal dari bakteri ini adalah bakteri dari genus Lactobacillus. 



yoghurt dapat dibuat dari berbagai jenis bakteri, jadi
sesuaikanlah jenis yoghurt yang dikonsumsi dengan kebutuhan kita
(sumber: moyashimon)

Berikut adalah beberapa jenis bakteri yang lazim dipakai pada proses pembuatan yoghurt:

1. Grup Bifidobacterium
Bifidobacterium adalah probiotik pertama yang menghuni usus kita. Pada waktu bayi baru saja dilahirkan, ususnya berada dalam kondisi steril. Ketika menyusu, usus bayi akan segera dikolonisasi oleh bakteri golongan Bifidobacterium (B. infantis, B. bifidum, B. longum) dengan persentase 95 ~ 99.95 %. Oleh karena sistem kekebalan tubuh bayi masih belum berfungsi secara baik dan benar, maka bakteri inilah yang 'bertindak' sebagai wakil / pengganti sistem kekebalan tubuh sebagai agen perlawanan terhadap kuman penyakit, sambil memodulasi (memacu) pembentukkan sistem kekebalan tubuh. Sehingga, sangatlah dianjurkan untuk memberikan ASI kepada bayi sampai berumur 6 bulan. Oleh karena suplementasi (penambahan) Bifidobacterium bagi bayi yang diberikan susu formula merupakan sesuatu yang dinilai aman,  Nestlé Amerika berusaha mengembangkan susu formula yang disuplementasi dengan Bifidobacterium. Jumlah bakteri Bifidobacterium akan semakin berkurang seiring bertambahnya usia, karena jenis makanan yang dikonsumsi juga akan semakin beragam. Walaupun begitu, orang dewasa pun tetap dianjurkan untuk mengkonsumsi Bifidobacterium dari sumber lainnya, terutama dari yoghurt. Bahkan, di Jepang, kriteria 'kesehatan pencernaan' seseorang ditentukan dari jumlah koloni Bifidobacterium yang terdapat dalam usus besar dan perbandingannya terhadap Escherichia coli. Sampai saat ini, ada sekitar 30an spesies Bifidobacterium yang telah diidentifikasi.

2. Bifidobacterium infantis
Bifidobacterium infantis memiliki efek inhibisi (menghambat) terhadap invasi / serangan kuman patogen, seperti Escherichia coli. Bifidobacterium infantis juga memiliki efek dan aktivitas anti-tumor ; yang walaupun mekanismenya tidak sepenuhnya dimengerti tetapi berguna dalam pencegahan maupun terapi kanker payudara. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Bifidobacterium infantis memiliki beberapa mekanisme aktivitas yang mampu melindungi dinding usus dan lambung dari gastroenteritis (inflamasi / peradangan pada dinding saluran pencernaan) atau yang lebih lazim dikenal sebagai 'flu perut', terutama yang disebabkan oleh virus.

3. Bifidobacterium bifidum
Bifidobacterium bifidum seringkali disebut dengan 'Bifidus bacteria' di Jepang. Di Jepang, bakteri jenis ini sangat terkenal sebagai bahan pembuat yoghurt, karena memiliki segudang khasiat. Bifidobacterium bifidum mampu memproduksi asam asetat (CH3-COOH) yang jauh lebih efektif dalam 'memerangi' yeast (ragi / jamur uniseluler) dibandingkan asam laktat. Sehingga, bakteri ini merupakan bakteri yang sangat efektif untuk meringankan / menyembuhkan penderita keputihan, yang biasanya disebabkan oleh yeast Candida albicans. Bakteri ini juga memiliki kemampuan untuk memproduksi ethanol (suatu jenis alkohol) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain seperti Salmonella, dan juga asam format. Bakteri probiotik ini juga mampu memelihara gerak peristaltik usus (mencegah sembelit / susah BAB), memelihara kesehatan liver, menekan pertumbuhan beberapa jenis tumor dan kanker kolon, meregulasi sistem imunitas, menyembuhkan ulcers, efektif dalam mencegah dan melawan rotavirus (suatu jenis virus penyebab diare), dan bahkan direkomendasikan untuk pasien yang sedang menjalani kemoterapi di Jepang. 


Bahkan, bakteri probiotik ini memiliki kemampuan yang sangat unik, yang dapat mengirimkan 'sinyal untuk mengajak' beberapa jenis bakteri patogen potensial (opportunistic pathogen bacteria) untuk 'bekerja sama' menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kesehatan. Hal ini dapat dianalogikan sebagai ketua kelas yang dapat membujuk (atau mengancam?) anak yang bandel di kelas untuk bersama - sama membersihkan kelas. Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bakteri probiotik ini juga dapat membantu menurunkan berat badan, dengan cara menghasilkan suatu senyawa yang akan berikatan dengan senyawa lipid (lemak), menghasilkan suatu senyawa organik kompleks yang tidak dapat terserap oleh tubuh. Karena lemak yang terserap tubuh menjadi berkurang, maka hal ini dapat membantu proses penurunan berat badan (mungkin ini adalah salah satu rahasia mengapa orang Jepang berbadan ramping?). Oleh karena bakteri ini termasuk ke dalam bakteri pertama yang mengkoloni usus bayi (resident bacteria), maka ibu hamil dan menyusui sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi yoghurt yang mengandung bakteri probiotik ini. 

yoghurt Bifidus rasa lidah buaya
yang dijual di Jepang
4. Bifidobacterium longum
Bifidobacterium longum memiliki kemampuan untuk mencegah timbulnya kanker, dengan cara memetabolisme dan menguraikan senyawa nitrat dan nitrit yang lazim terdapat di dalam makanan sebagai zat aditif. Hasil penelitian awal juga menunjukkan bahwa konsumsi rutin Bifidobacterium longum dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan kanker kolon, kanker hati, dan kanker payudara secara signifikan.

5. Lactobacillus acidophilus
Berbeda dengan bakteri probiotik lainnya, Lactobacillus acidophilus lebih suka tinggal di usus halus, dan dapat tinggal juga di dalam usus besar dalam jumlah yang sedikit, sehingga agak sulit untuk diklasifikasikan sebagai resident atau transient bacteria. Jika Bifidobacterium bifidum sangat terkenal di Jepang, maka Lactobacillus acidophilus sangat terkenal di Amerika, Kanada, dan Australia karena manfaat yang tak kalah banyaknya. Bakteri Lactobacillus acidophilus sangat tahan dengan asam lambung (masih tetap hidup pada pH = 1.5) maupun garam empedu, sehingga dapat mencapai usus dalam keadaan hidup. Lactobacillus acidophilus mampu memproduksi CLA (conjugated linoleic acid / asam linoleat terkonjugasi), yaitu suatu zat yang mampu menetralisir senyawa karsinogen (suatu agen pemicu kanker). Lactobacillus acidophilus juga mampu menurunkan kadar kolesterol di dalam darah dengan cara mengeluarkan sejenis enzim yang dapat menguraikan / 'memecah' zat kolesterol tersebut menjadi senyawa asam lemak yang lebih sederhana sebelum diserap oleh tubuh. Kemampuan Lactobacillus acidophilus untuk 'memecah' senyawa gluten juga membantu penderita alergi gluten untuk terbebas dari masalah alergi ini. Sama halnya seperti Bifidobacterium bifidum, Lactobacillus acidophilus juga mampu menghasilkan senyawa asam (asam laktat) yang cukup efektif dalam melawan infeksi yeast Candida albicans, penyebab penyakit keputihan pada kaum hawa. 


Kelebihan lainnya adalah kemampuannya untuk melawan pertumbuhan beberapa jenis tumor. Lactobacillus acidophilus juga mampu melawan berbagai infeksi bakteri patogen secara agresif dengan menghasilkan beberapa macam senyawa antibiotika, seperti Acidolin, Acidophilin, Lactobacillin, dan Lactocidin. Senyawa antibiotik ini dapat melawan bakteri lain terutama bakteri patogen. Tak hanya itu, Lactobacillus acidophilus juga mampu memproduksi vitamin E dan K yang berguna dalam proses regenerasi dan peremajaan kulit, sehingga seringkali dianggap bahwa bakteri ini dapat mempercantik kulit dan memberikan khasiat awet muda. Walaupun memiliki beberapa manfaat yang sama / mirip dengan Bifidobacterium bifidum, tetapi bakteri Lactobacillus acidophilus memiliki karakteristik yang agresif dalam melawan mikroba patogen, yang mana karakteristik ini cukup berbeda dengan Bifidobacterium bifidum yang cenderung 'membujuk' bakteri patogen potensial (opportunistic pathogen bacteria) untuk bekerja sama menghasilkan senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Kekurangan dari bakteri ini adalah, rasa dari yoghurt yang dihasilkan akan sangat masam, sehingga mungkin tidak dianjurkan bagi penderita asam lambung. Walaupun begitu, mengingat manfaatnya, mereka yang memiliki masalah asam lambung dapat saja mencoba yoghurt ini dalam jumlah sedikit dahulu. Jika tidak ada keluhan / masalah, maka bisa dikonsumsi dalam jumlah normal. 

6. Lactobacillus casei
Lactobacillus casei yang terdapat di dalam Y☆kult merupakan bakteri transient yang mampu memodulasi sistem imun kompleks pada mukosa genital. Artinya, bakteri probiotik ini dapat meningkatkan sistem kekebalan untuk melawan / mencegah serangan dari beberapa jenis penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Bakteri ini juga mampu menghambat pertumbuhan sel tumor, dan mampu melawan beberapa jenis kuman penyebab penyakit yang berhubungan dengan pencernaan, seperti typhus, disentri, dan kolera. Lactobacillus casei juga merupakan bakteri probiotik yang paling ampuh dalam melawan infeksi bakteri Listeria. Listeria dapat menyebabkan suatu penyakit dengan fatality rate (resiko kematian) sebesar 30%. Listeria dapat dijumpai di mana - mana, dari kerang, burung, serangga, laba - laba, hewan ternak, air yang tercemar, produk hewan ternak (daging, susu, telur, dll.) yang tercemar, sayuran mentah, tikus dan kucing liar, dan lain - lain. Tetapi, karena bakteri Listeria hanya bisa masuk melalui jalur oral (mulut), maka ada dua kemungkinan mengapa infeksi
Listeria ini bisa terjadi. Pertama, bahan makanan yang tidak dimasak secara benar, atau tidak dimasak sama sekali, seperti makanan karedok, rujak, salad, sashimi, dll. Kedua, tangan yang tidak dicuci setelah menyentuh sesuatu (tanah, air, binatang, tanaman, dll.) yang terkontaminasi, lalu secara tidak sengaja kuman tersebut tertelan (misal: kebiasaan menghisap jari / menggigit kuku, makan dengan menggunakan tangan, dll.). Listeria merupakan salah satu kuman yang dapat menyebabkan penyakit meningitis (radang selaput otak). Meningitis sendiri dapat disebabkan oleh beberapa jenis kuman, antara lain infeksi bakteri Listeria, virus, maupun protozoa. Tetapi, Lactobacillus casei yang terdapat di dalam Y☆kult dapat membantu meringankan penderita meningitis yang disebabkan oleh bakteri Listeria dengan sangat efektif.
pabrik Y☆kult di Jepang
7. Lactobacillus bulgaricus
Lactobacillus bulgaricus merupakan bakteri yang paling banyak dipakai dalam pembuatan yoghurt, karena prosesnya sangat mudah. Lactobacillus bulgaricus seringkali dianjurkan bagi para penderita masalah pencernaan, termasuk acid reflux / GERD. Lactobacillus bulgaricus merupakan bakteri transient, tetapi cukup diperlukan karena perannya yang penting. Lactobacillus bulgaricus dapat menghasilkan enzim laktase yang fungsinya 'memecah' laktosa (gula rangkap pada susu) menjadi dua buah monosakarida (gula tunggal) bernama glukosa dan galaktosa, serta mampu memproduksi asam amino dan beberapa jenis vitamin B yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini membuat Lactobacillus bulgaricus seringkali dipilih oleh penderita alergi susu (lactose intolerant). Salah satu manfaat dari Lactobacillus bulgaricus adalah keampuhannya dalam melawan penyakit kelamin yang bernama herpes, baik herpes simplex maupun herpes progenitalis, yang disebabkan oleh virus.  


8. Streptococcus thermophilus
Bakteri ini sebenarnya cukup sering dipakai pada proses pembuatan yoghurt walaupun tidak sebanyak Lactobacillus bulgaricus,
karena produk yoghurt yang dihasilkan rasanya tidak terlalu asam. Sama halnya dengan Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophilus juga mampu 'memecahkan' senyawa laktosa pada susu menjadi glukosa dan galaktosa. Hal ini sangat membantu penderita lactose intolerant yang tidak bisa menghasilkan enzim laktase, sehingga keluhan alergi susu seperti diare dsb. dapat dikurangi secara signifikan. Streptococcus thermophilus juga mampu melawan beberapa jenis kuman penyebab diare, menyembuhkan ulcers yang timbul akibat pemakaian obat - obatan gologan NSAID (misal: aspirin, ibuprofen, parasetamol, dll.), mampu mencegah terjadinya beberapa jenis tumor dan kanker kolon.  

Streptococcus thermophilus memiliki kemampuan menghasilkan senyawa antioksidan yang sangat baik. Senyawa antioksidan ini sangat diperlukan dalam 'menangkal' senyawa jahat yang bernama radikal bebas, yaitu suatu jenis senyawa yang dapat memicu kanker. Radikal bebas dapat dihasilkan pada proses metabolisme yang tidak sempurna (misal: pada manula), dihasilkan oleh tubuh ketika mengalami stress, hasil metabolisme antibiotik, mengkonsumsi karbohidrat secara berlebihan, air yang diklorinasi, ataupun dari senyawa kimia yang terdapat dalam air / makanan. Oleh karena Streptococcus thermophilus memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menghasilkan senyawa antioksidan, bakteri probiotik ini seringkali dipilih bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan dan ingin terhindar dari kanker. Selain itu, dengan kemampuannya untuk menangkal radikal bebas sekaligus merangsang produksi dan regenerasi sel baru, bakteri probiotik Streptococcus thermophilus dianggap sebagai salah satu 'rahasia kesehatan dan umur panjang'. Sayangnya, karena bakteri probiotik ini termasuk bakteri transient, ia hanya [akan] tinggal di saluran pencernaan sampai dengan 15 hari saja sejak dikonsumsi.

9. Lactobacillus rhamnosus
Lactobacillus rhamnosus merupakan bakteri probiotik yang sedang populer sebagai bahan penelitian akhir - akhir ini. Manfaat Lactobacillus rhamnosus pada penderita masalah pencernaan, mulai dari konstipasi, inflammatory bowel disease (penyakit peradangan pada usus), acid reflux, GERD. LPR, dkk. sedang diteliti, dan sejauh ini prospeknya terlihat menjanjikan. Probiotik Lactobacillus rhamnosus juga terbukti efektif dalam melawan diare yang disebabkan oleh bakteri maupun virus, serta meringankan beberapa kasus alergi makanan. Di dalam tahap percobaan di laboratorium, hasil percobaan menunjukkan bahwa Lactobacillus rhamnosus dapat mencegah bertumbuhnya sel tumor dan kanker pada kolon. Penelitian tahap awal yang dilakukan di Kanada menunjukkan bahwa Lactobacillus rhamnosus dapat membantu meningkatkan ketahanan terhadap infeksi yeast, dan melindungi organ kelamin dengan cara mencegah invasi (masuknya) penyakit kelamin termasuk AIDS, dan infeksi kandung kemih. Lactobacillus rhamnosus bahkan mulai dianggap sebagai probiotik Lactobacillus yang manfaatnya [hampir] sama hebatnya dengan sepupunya, Lactobacillus acidophilus.

10. Lactobacillus sporogenes
Bakteri probiotik ini mungkin tidak terlalu terkenal, tetapi sedang diteliti secara intensif di India. Di dalam serangkaian uji klinis di beberapa Rumah Sakit di India terhadap banyak pasien sukarelawan (atau sukarelawan pasien??), Lactobacillus sporogenes yang dikonsumsi sebagai suplemen terhadap obat - obatan mampu menurunkan serum kolesterol jahat (LDL) sebanyak 104 poin hanya dalam 3 hari, sedangkan yang tidak mengkonsumsinya (hanya mengkonsumsi obat - obatan), serum kolesterol rata-ratanya hanya turun 47 poin dalam 3 hari. Hal ini terjadi karena Lactobacillus sporogenes dapat memetabolisme kolesterol sebelum diserap oleh usus kita, sehingga secara tidak langsung dapat menurunkan kadar kolesterol jahat di dalam tubuh kita. Hasil penelitian ini menawarkan / menjanjikan sebuah harapan untuk mengobati pasien penyakit jantung melalui sebuah terapi yang [hampir] bebas efek samping. Lactobacillus sporogenes juga dilaporkan dapat membantu meningkatkan efektivitas pengobatan pada penderita diare, dan juga dapat menormalkan kondisi usus pada penderita gut dysbiosis (ketidakseimbangan mikroflora usus).

11. Lactobacillus plantarum
Bakteri probiotik ini agak berbeda dengan yang lainnya, karena tidak lazim terdapat di dalam susu, tetapi digolongkan sebagai bakteri asam laktat. Lactobacillus plantarum seringkali dijumpai pada sayuran yang difermentasi, seperti kimchi, sauerkraut, acar, dan sebagainya. Lactobacillus plantarum merupakan bakteri yang relatif tahan terhadap berbagai kondisi ekstrem, seperti kadar garam yang tinggi, suhu tinggi, alkohol, pH yang asam, ataupun suhu rendah. Lactobacillus plantarum memiliki kemampuan untuk menghasilkan enzim yang mampu mencerna serat, sehingga membantu kita dalam mencerna serat yang terdapat dalam beberapa bahan makanan, seperti berbagai jenis bawang, gandum, pisang, beberapa jenis pati, bahkan yeast. Oleh karena itu, Lactobacillus plantarum dapat membantu beberapa masalah pencernaan seperti perut kembung dan masalah timbulnya gas dalam perut, yang timbul akibat adanya serat yang tidak tercerna [dan menjadi 'makanan' bagi bakteri lain yang menghasilkan gas]. Lactobacillus plantarum juga dapat melawan infeksi dari beberapa jenis kuman penyakit, termasuk Clostridium difficile yang terkenal sangat ganas dan kebal antibiotik. Lactobacillus plantarum memiliki kemampuan untuk menghasilkan sejenis antibiotik bernama Lactolin, yang bekerja dengan cara mengincar dan memblok sisi reseptor dari bakteri gram negatif, yang menjadikan bakteri ini sebagai probiotik transient yang sangat tangguh. 

Sebenarnya ada banyak bakteri probiotik yang ingin saya 'perkenalkan', tetapi karena keterbatasan waktu maka hanya 10 jenis saja yang saya jelaskan di sini. Adapun jenis probiotik yang kita pilih sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan kita sendiri, dan ketersediaan di pasar tentunya. 


Minum Yoghurt Ternyata Ada Aturannya
Walaupun yoghurt dianggap sebagai minuman probiotik yang bermanfaat bagi kesehatan, ternyata mengkonsumsi yoghurt pun ada aturannya. Aturan ini juga berlaku jika kita ingin mengkonsumsi probiotik lainnya, seperti KEFIR, tapé, dan lain sebagainya. Hal apa sajakah yang harus kita perhatikan pada saat ingin / akan mengkonsumsi yoghurt?

1. Jangan mengkonsumsi yoghurt sesaat sebelum / sesudah makan.
Hal ini disebabkan karena yoghurt sendiri mengandung bakteri yang hidup. Bakteri tersebut dapat menghasilkan enzim tertentu dengan fungsi tertentu pula. Mengkonsumsi yoghurt sesaat sebelum / sesudah makan dapat mengakibatkan terbentuknya suatu senyawa yang tidak kita butuhkan (atau bahkan dapat menjadi racun), yang dihasilkan oleh metabolisme bakteri tersebut. Karena, seharusnya bakteri probiotik tersebut menguraikan sisa - sisa makanan hasil pencernaan yang terdapat di usus besar, bukannya makanan yang berada di lambung. Alih - alih proses pencernaan, di dalam lambung dapat terjadi proses fermentasi atau bahkan putrefikasi (pembusukan / penguraian), yang dapat menghasilkan suatu senyawa yang tidak dibutuhkan atau bahkan beracun. Kemungkinan lainnya, bakteri probiotik dapat mati karena terkena asam lambung yang diproduksi oleh lambung. Akibatnya, manfaat dari yoghurt tidak akan bisa kita dapatkan, hanya rasa dari yoghurt itu saja yang dapat kita nikmati. Sebaiknya, yoghurt dikonsumsi 2 jam setelah makan dan 1.5 jam sebelum makan yang berikutnya. Yoghurt paling baik untuk dikonsumsi sebelum tidur.

2. Jangan mengkonsumsi yoghurt sesaat sebelum / sesudah mengkonsumsi antibiotika.
Hal ini disebabkan karena yoghurt sendiri adalah bakteri yang hidup. Sedangkan antibiotika bertujuan untuk membunuh bakteri, tidak peduli apakah bakteri itu adalah bakteri baik (probiotik) ataupun bakteri jahat (patogen). Mengkonsumsi yoghurt terlalu dekat dengan antibiotika akan menyebabkan 2 kemungkinan. Pertama, antibiotika akan membunuh bakteri probiotik pada yoghurt terlebih dahulu, lalu khasiat antibiotik tersebut menjadi terlalu lemah untuk membunuh kuman penyakit yang dimaksud. Kedua, dalam kasus yang lebih jarang, senyawa antibiotika tersebut akan diuraikan / dinetralisir oleh bakteri probiotik, sehingga antibiotika yang dikonsumsi menjadi kehilangan khasiatnya, atau bahkan berubah menjadi senyawa yang justru berbahaya (beracun) bagi tubuh kita. Kedua kemungkinan tersebut akan membuat antibiotika menjadi kehilangan sebagian atau seluruh khasiatnya, sehingga yoghurt sebaiknya diminum 2 jam setelah konsumsi antibiotika, tetapi paling baik jika dikonsumsi sebelum tidur, karena bakteri probiotik tersebut akan memiliki waktu setidaknya sekitar 8 jam untuk 'bekerja' sebelum konsumsi antibiotik berikutnya pada keesokan harinya. Hal ini juga berlaku untuk antibiotika alami, seperti air rebusan daun sirih, air rebusan sarang semut, perasan kunyit, madu, dan lain - lain, yang sebaiknya jangan diminum terlalu berdekatan dengan yoghurt.

3. Jangan meminum air hangat sesaat sebelum / sesudah mengkonsumsi yoghurt.
Hal ini disebabkan karena air hangat (memiliki temperatur 40℃ atau lebih) dapat melemahkan bakteri probiotik. Akibatnya, bakteri probiotik mungkin akan mati sebelum mencapai usus besar, jumlahnya terlalu sedikit atau kondisinya terlalu lemah pada saat mencapai usus besar sehingga tidak dapat beraktivitas dengan baik, yang pada akhirnya membuat kita tidak dapat 'menikmati' manfaat dari yoghurt tersebut.

4. Jangan mengkonsumsi yoghurt dalam jumlah berlebihan.
Pada prinsipnya, segala sesuatu yang dikonsumsi secara berlebihan itu tidak baik bagi kesehatan. Bahan makanan apapun, termasuk yoghurt yang dikonsumsi harus melewati usus halus sebelum bisa sampai ke usus besar. Usus besar dihuni oleh banyak sekali bakteri (baik jumlahnya maupun jenisnya), sedangkan usus halus termasuk daerah yang relatif steril dan bebas bakteri. Sebagai referensi, di dalam usus halus terdapat bakteri maksimal 10,000 bakteri per mL cairan, sedangkan pada usus besar populasi bakteri minimal 1,000,000,000 bakteri per 1mL cairan. Mengapa populasinya bisa berbeda jauh begini? Alasannya adalah, karena usus halus memiliki fungsi utama untuk menyerap nutrisi dari makanan, dan fungsi tambahan sebagai tempat terjadinya reaksi enzimatis untuk 'memecahkan' senyawa kompleks di dalam makanan menjadi senyawa - senyawa yang lebih sederhana yang dapat diserap oleh usus halus. Sehingga, untuk memastikan bahwa yang diserap adalah nutrien (sari - sari makanan) dan bukannya bakteri (bahkan bakteri probiotik pun akan menimbulkan masalah jika sampai masuk ke sistem peredaran darah), usus halus memiliki mekanisme 'pembersihan diri otomatis', yang menyebabkan mikroba yang berada pada usus halus akan 'dipindahkan' ke bagian lain, yaitu usus besar melalui apa yang disebut gerakan kontraksi otot (bowel movement). Jika yoghurt dikonsumsi secara berlebihan, maka usus halus akan mengalami kesulitan untuk 'memindahkan' bakteri probiotik itu dari usus halus ke usus besar. Padahal, panjang usus halus bisa mencapai 8 meter atau lebih. Artinya, jika yoghurt (ataupun probiotik lainnya) dikonsumsi secara berlebihan, maka bakteri probiotik yang seharusnya berguna akan terkonsentrasi di suatu bagian di usus halus, dan alih - alih bisa bermanfaat, hal ini justru akan berpotensi menimbulkan masalah bagi usus halus, yang ditandai dengan kacaunya gerakan kontraksi pada usus. Masalah ini disebut SIBO (small intestine bacterial overgrowth) atau SIMO (small intestine microbial overgrowth), yang ditandai dengan berbagai gejala seperti sakit perut, kembung, nafas yang berbau, sembelit, dll. Jika hal ini sampai terjadi, penanganannya akan cukup sulit.



yoghurt ice cream memang enak, tetapi
jangan dikonsumsi dalam jumlah banyak

5. Konsumsilah yoghurt saat perut kosong.
Hal ini sangat disarankan, agar lambung tidak berada pada kondisi asam, yang dapat melemahkan bakteri probiotik yang kita konsumsi. Waktu yang paling baik untuk mengkonsumsi yoghurt adalah sebelum tidur.

6. Minum air.
Yoghurt merupakan probiotik yang menggunakan media susu. Pada saat dikonsumsi, susu yang merupakan sumber protein dapat saja merangsang keluarnya (diproduksinya) asam lambung, dan jika ini terjadi maka khasiat yoghurt akan menjadi berkurang karena bakteri probiotiknya akan menjadi lemah terkena asam lambung. Oleh karena itu, sesaat setelah minum yoghurt, ada baiknya jika kita minum segelas (sekitar 150 ~ 200cc) air sejuk (15 ~ 20℃), yang akan mengencerkan konsentrasi yoghurt itu sendiri. Dengan proses pengenceran ini, diharapkan bahwa asam lambung tidak akan dirangsang / dikeluarkan, dan walaupun dikeluarkan, air yang diminum akan mengencerkan konsentrasi asam lambung itu sendiri sehingga mengurangi efeknya terhadap probiotik yang kita minum. Suhu air yang agak dingin juga membantu mengurangi respons lambung maupun efektivitas asam lambung yang dihasilkan.


Yoghurt Sebagai Suplementasi Antibiotik
Pada saat kita mengkonsumsi antibiotik (anti bakteri), terutama antibiotika spektrum luas (broad spectrum antibiotic), sebenarnya kita akan membunuh bakteri jahat sekaligus bakteri baik yang berada di dalam usus kita. Hal ini dapat dianalogikan dengan menjatuhkan bom atom kepada pasukan infanteri yang sedang berperang. Walaupun tujuan sebenarnya adalah untuk membunuh bakteri yang jahat, tetapi karena bakteri yang baik ikut menjadi korban, maka ada beberapa masalah yang mungkin dapat muncul. Oleh karena tugas utama bakteri baik adalah untuk menjaga populasi dari mikroba yang jahat, maka jika bakteri yang baik mati karena antibiotik, populasi mikroba yang jahat bisa berkembang tidak terkendali. Ada 2 jenis mikroba yang jahat: yang pertama adalah mikroba non-bakteri yang sama sekali tidak terpengaruh oleh antibiotika, seperti yeast Candida albicans. Antibiotika tidak dapat membunuh yeast (ragi), karena yeast bukanlah bakteri, melainkan suatu jenis mikroorganisme yang berbeda. Jenis kedua adalah bakteri jahat yang walaupun mati setelah 'diserang' oleh antibiotika, tetapi survivor-nya (bakteri yang selamat) akan 'mengingat' dan mengembangkan resistensi terhadap antibiotika yang telah membunuh kawan - kawannya. Contoh bakteri jahat yang dapat mengembangkan resistensi terhadap antibiotika adalah Helicobacter pylori dan Clostridium difficile. Terganggunya keseimbangan mikroflora usus karena konsumsi antibiotika dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari diare, konstipasi, mual, sampai masalah yang lebih serius. Oleh karena itu, antibiotika seharusnya tidak diberikan secara sembarangan. Bahkan, di negara maju (kecuali Amerika), dokter tidak akan mau meresepkan antibiotika kecuali jika memang benar - benar dibutuhkan.


Ada cerita menarik mengenai bagaimana penyalahgunaan antibiotika menyebabkan kematian seorang artis terkenal di masa lampau. Hasil analisis dan rekonstruksi terbaru terhadap kematian penyanyi rock n roll terkenal Elvis Presley, yang meninggal mendadak pada tahun 1977, mengungkapkan bahwa penyebab kematian Elvis Presley memang mungkin disebabkan oleh serangan jantung, tetapi serangan jantung itu sendiri bisa jadi disebabkan karena kesulitan buang air besar. Hal ini memang terdengar sangat konyol, tetapi BAB yang tidak lancar dapat menimbulkan berbagai masalah, mulai dari perasaan tidak nyaman, perut kembung, gangguan emosional, sakit kepala, jantung berdebar, dan keluhan / gangguan lainnya yang dapat berujung pada kematian. BAB yang tidak lancar akan menyebabkan terakumulasinya feses / tinja, dan karena BAB ini tidak dapat dikeluarkan, maka bakteri / mikroba jahat yang ada akan beraktifitas dan menghasilkan gas dan senyawa racun / toksin. Apabila senyawa toksin ini jumlahnya terlalu banyak maka senyawa ini akan terserap masuk melewati dinding usus dan masuk ke peredaran darah, sehingga dapat mengganggu kerja dan kinerja organ, seperti otak, ginjal, dan jantung. Toksin yang masuk ke darah dapat memicu reaksi imunitas, menghasilkan reaksi inflamasi (peradangan) pada organ di mana sistem imun tersebut bereaksi. Dan ada kemungkinan bahwa toksin tersebut mengacaukan impuls listrik yang mengirimkan pesan kepada jantung untuk berdetak, yang menghasilkan kekacauan pada ritme detakan jantung, sehingga berujung kepada kematiannya. Hipotesis dan spekulasi ini didukung oleh fakta dari hasil catatan otopsi mendiang Elvis, yang menunjukkan bahwa ada akumulasi tinja seberat hampir 15kg (30 pound) di dalam usus Elvis, dan hal ini menjelaskan mengapa berat badan Elvis bertambah secara pesat dalam beberapa bulan sebelum kematiannya. Lalu, para ahli berpendapat bahwa, kesulitan BAB yang dialami Elvis ini disebabkan karena kebiasaan Elvis mengkonsumsi antibiotika dan obat - obatan lainnya, yang mengganggu keseimbangan mikroflora ususnya. Hal ini mungkin tidak akan terjadi jika beliau menerapkan pola hidup dan pola makan yang sehat. Bagi yang penasaran tentang cerita Elvis, berita selengkapnya dapat dibaca di sini.
botol berisi antibiotika yang diresepkan kepada mendiang
Elvis sebelum kematiannya (sumber: klik di sini)

Jika karena sesuatu hal, dokter memutuskan untuk memberikan antibiotika, maka untuk meminimalisir efek keseimbangan mikroflora usus yang terganggu, konsumsi / suplementasi probiotik (tidak hanya terbatas pada yoghurt) sangatlah dianjurkan. Sehingga, diharapkan bahwa bakteri probiotik yang dikonsumsi akan menggantikan tugas dan peran bakteri baik yang mati karena konsumsi antibiotika, sebelum mikroba yang jahat bisa 'pulih', mengembangkan resistensi, dan berkembang biak tidak terkendali. Adapun waktu yang paling baik untuk mengkonsumsi yoghurt adalah pada waktu malam hari sebelum tidur. Sebenarnya, yoghurt sebaiknya dikonsumsi 2 ~ 3 jam sesudah konsumsi antibiotika, dan 1 ~ 2 jam sebelum konsumsi antibiotika selanjutnya. Artinya, jika antibiotika dikonsumsi 3x sehari, akan lebih baik jika probiotik juga dikonsumsi 3x sehari. Tetapi, karena hal ini terkesan mubazir dan tidak terlalu efektif juga, oleh karena itu konsumsi yoghurt 1x sehari selama konsumsi antibiotika dinilai sudah mencukupi.

Pengalaman saya sendiri ketika terpaksa harus mengkonsumsi antibiotik 'kelas berat' karena sesuatu hal, saya mengalami diare yang parah dan tidak bisa sembuh dengan meminum obat diare yang ada. Tetapi, setelah mengkonsumsi yoghurt dan beberapa jenis probiotik lainnya, diare saya dapat berhenti dalam 2 hari tanpa harus meminum obat diare, dan keluhan saya selama mengkonsumsi antibiotik dapat diminimalisir.

Cara Membuat Yoghurt
Yoghurt dapat dibuat dengan menggunakan susu cair yang dijual di swalayan / supermarket, ataupun susu segar yang berasal dari sapi / kambing dll. Cara pembuatan yoghurt yang cukup baik dapat dilihat di sini, atau dapat juga melihat videonya di sini.


Penutup
Inilah informasi yang dapat saya sampaikan seputar yoghurt, mulai dari sejarah, jenis, kegunaan, dan sebagainya. Mohon maaf jika ada informasi yang terlewatkan dan tidak bisa dituliskan di sini. Semoga bermanfaat dan bisa memberikan 'pencerahan'.

P.S.:
Jika ingin mengutip sebagian artikel ini, anda dipersilahkan melakukannya. Tetapi, harap dituliskan sumbernya. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk menulis artikel ini, jadi hargailah hasil dan hak intelektual milik orang lain. Terima kasih telah mengunjungi blog ini.



Referensi:
http://medical.gerber.com/nutrition-health-topics/breastfeeding/articles/bifidobacteria-found-in-breastmilk-implications-on-infant-nutrition
http://www.relfe.com/lactobacillus.html
http://gut.bmj.com/content/47/5/646
http://www.powerofprobiotics.com/Bifidobacterium.html
http://www.klaire.com/probioticleader3.htm
http://clas.sa.ucsb.edu/staff/Resource%20folder/Chem109ABC/Acid,%20Base%20Strength/Table%20of%20Acids%20w%20Kas%20and%20pKas.pdf
https://health.org.au/index.php/health-articles-free/item/311-friendly-gut-bacteria-%E2%80%98probiotics%E2%80%99.html
http://www.ei-resource.org/treatment-options/treatment-information/probiotics-and-prebiotics/
http://bcdairy.ca/milk/articles/the-probiotic-effects-of-lactic-acid-bacteria/
http://lipidworld.biomedcentral.com/articles/10.1186/1476-511X-10-116
http://downtoearth.danone.com/2013/01/31/a-brief-history-of-yogurt/